Tuesday, 7 July 2015

Perihal Kebijaksanaan #10: Memiliki Kemarahan Yang Benar

16 Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya dan merasa aman. 17 Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar. (Ams. 14:16-17)

            Kemarahan adalah salah satu aspek dari emosi manusia. Sehingga ketika berbicara tentang kebijaksanaan, maka kemarahan adalah aspek yang tidak mungkin tidak harus dibahas. Bagaimana karakter kemarahan dari orang bijak? Pada bagian ini dikatakan bahwa seorang bijaksana tidak lekas naik darah/ marah. Firman Tuhan ini bukan bermaksud bahwa seorang bijak tidak boleh marah. Tidak lekas marah, bukan berarti tidak boleh marah. Tentu saja kemarahan adalah sesuatu yang ada di dalam kehidupan manusia, bahkan menurut saya sesuatu yang harus ada. Apalagi ketika seseorang adalah seorang yang bijak pasti harus marah. Mengapa?
1.    Seorang bijak adalah gambar dan rupa Allah. Apa artinya gambar dan rupa Allah? Salah satunya adalah memiliki karakter-karakter yang mirip dengan Allah. Allah adalah pribadi yang suci dan dia senantiasa marah ketika kebenaran dan diri-Nya dipermainkan oleh dosa-dosa manusia (Ul. 7:4; Maz. 78:31; dll – ada 51 ayat yang saya temukan, masih banyak yang lain). Ketika kita membaca Rom. 1:18-32, maka kita melihat dengan jelas gambaran Allah yang pasti senantiasa, setiap waktu murka terhadap manusia. Seorang bijak adalah gambar dan rupa Allah yang sudah diperbaharui oleh Allah sendiri sehingga ketika seorang bijaksana melihat kebenaran dan diri Allah dipermainkan maka respon yang tepat adalah marah sebagaimana Allah marah.
2.    Seorang bijak adalah Kristus Kecil. Sekali lagi saya ingatkan, di dalam membahas tentang karakter bijak, maka saya asumsikan orang bijak di sini adalah seorang Kristen. Seorang bijak adalah seorang Kristen. Apa itu Kristen? Kristen berarti Kristus Kecil. Arti kata ini mirip dengan gambar dan rupa Allah, yaitu hidup seorang bijak mewakili Kristus yang sejati. Kita membaca di dalam Alkitab bahwa Kristus berkali-kali marah dengan orang-orang berdosa, khususnya dengan orang munafik seperti Farisi, ahli Taurat, Saduki, dan Herodian. Di dalam Alkitab juga kita membaca bahwa Kristus juga marah tehadap murid-Nya sendiri.
Namun, meskipun orang Kristen harus marah, tidak semua kemarahan itu benar. Seperti apa kemarahan yang tidak benar tersebut?
1.    Kemarahan yang jahat. Di dalam Amsal 14:16, dikatakan bahwa “Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan”. Ketika kita memperhatikan bahasa aslinya, maka kalimat ini lebih berarti orang bijak takut dan menjauhi kejahatan. Kata kejahatan di sini dikontraskan dengan kalimat selanjutnya: “tetapi orang bebal melampiaskan nafsunya”. Kata nafsu di sini lebih berarti kemarahannya. Jadi, kejahatan pada kalimat pertama sinonim dengan kemarahan pada kalimat kedua. Artinya tidak seorang bijak tidak boleh marah yang jahat. Tidak semua kemarahan adalah jahat. Jikalau semua kemarahan adalah jahat, maka Allah pasti jahat. Orang bijak hanya dilarang untuk marah yang jahat.
Di dalam bahasa Yunani, ada beberapa kata yang mewakili kata marah:
i.              Thumos: kemarahan yang diluar kontrol. Biasanya kata ini digunakan kepada orang yang belum diselamatkan atau iblis ketika marah (Why. 12:12). Kemarahan seperti ini adalah kemarahan yang berdosa di mata Tuhan, karena kemarahan ini adalah kemarahan yang begitu merugikan, menyakiti, bahkan bisa membunuh diri sendiri bahkan orang lain. Selain alasan tersebut, kemarahan diluar kontrol adalah dosa karena ini adalah sebuah sikap yang tidak berasal dari karakter Kristen, yaitu buah roh. Salah satu buah roh adalah pengendalian diri. Beberapa tahun yang lalu ada seorang Asia yang begitu depresi dan marah. Karena kemarahannya tidak bisa dikontrol maka dia berniat untuk membunuh semua orang yang ada di dalam sebuah kelas dengan cara menembaki orang-orang yang ada di di dalamnya.
ii.            Parorgismos: kemarahan yang muncul dari perasaan iri hati atau cemburu. Kemarahan ini bisa benar atau tidak. Allah cemburu ketika melihat umat-Nya menyembah berhala. Ini adalah kemarahan yang benar. Tetapi ketika kecemburuan berakibat sebuah tindakan dosa. Di China pernah terjadi sebuah kasus dimana seorang permaisuri cemburu dengan istri muda Kaisar sehingga memotong tangan, kaki, dan membuat istri muda itu kehilangan matanya. Ini adalah kecemburuan yang salah.
iii.           Orge: kemarahan yang berasal dari keyakinan apa yang benar. Alkitab menceritakan bahwa Yesus marah di bait Allah karena telah membuat bait Allah sebagai sarang penyamun karena para pedagang telah merampok hak orang-orang non Yahudi untuk beribadah di rumah Allah.

Jadi, seorang bijak tidak boleh marah dengan kemarahan yang jahat seperti thumos: kemarahan yang di luar kontrol dan kemarahan Parorgismos: kemarahan yang berasal dari kecemburuan yang salah. Namun seorang bijak haruslah marah di dalam kategori orge. Bagi saya ketika seseorang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa marah, maka ada hal yang keliru di dalam kerohaniannya. Seorang yang memiliki rohani yang baik pasti marah di dalam kategori orge karena dia adalah gambar dan rupa Allah yang telah diperbaharui dan juga merupakan Kristus kecil.

2.    Kemarahan yang tidak pada waktunya. Sebagaimana yang telah saya katakan tadi di bagian atas bahwa ketika kita membaca Rom. 1:18-32, maka kita melihat dengan jelas gambaran Allah yang pasti senantiasa, setiap waktu murka terhadap manusia. Namun ini bukan berarti Allah lekas marah. Tetapi Allah marah di dalam waktu yang tepat: ketika kebenaran dan kemuliaan-Nya dipermainkan. Waktu yang tepat ketika seseorang marah adalah ketika seseorang dengan jelas mengerti bahwa pada waktu itu kebenaran Allah dan diri Allah dipermainkan dan dihina. Ini adalah waktu yang tepat untuk marah. Ini adalah sebuah tindakan yang bijaksana.
Kemarahan yang tidak pada waktunya seringkali membuat kehancuran bagi diri sendiri ataupun orang lain. Sebagaimana dikisahkan Sepasang suami isteri seperti pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan anak-anak untuk diasuh pembantu rumah ketika mereka bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Sendirian di rumah, dia sering dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja. Dia bermain diluar rumah. Dia bermain ayunan, berayun-ayun di atas ayunan yang dibeli papanya, ataupun memetik bunga matahari, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya. Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia ingin membuat sebuah karya yang indah untuk menyatakan cintanya kepada ayah dan ibunya. Dia pun mencoret lantai tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi karena lantainya terbuat dari marmer, coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Coretan tersebut tampak jelas. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah. Pulang petang itu, terkejutlah ayah ibunya melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini?” Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Pembantu terus mengatakan “Tak tahu… !” Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata “Ita yg membuat itu papa…. cantik kan!” katanya sambil memeluk papanya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya dengan keras dan tanpa henti ke kedua tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.  Setelah kedua orang tua tersebut masuk ke rumah, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka-lukanya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan obat saja!” jawab si bapak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Ita demam…” jawab pembantunya ringkas.” Kasih minum obat penurun panas ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lagi pintu kamar pembantunya. Memasuki hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan ia dirujuk ke hospital karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena gangren yang terjadi sudah terlalu parah. “Tangannya sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yang dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Papa.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau dipukul papa. Ita tak mau jahat. Ita sayang papa.. sayang mama.” katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Ita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis itu meraung histeris. “Papa.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa diambil.. Ita janji nggak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret-coret mobil lagi,” katanya berulang-ulang. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
Inilah contoh kemarahan yang tidak tepat pada waktunya. Si anak adalah seorang yang tidak mengerti apa yang dilakukannya adalah kesalahan, si anak belum pernah diajarkan bahwa mobil adalah sebuah hal yang begitu berharga, si anak tidak mengerti bahwa itu adalah jerih payah kedua orang tuanya. Bahkan anak tersebut juga tidak mengerti apa itu jerih payah. Anak tersebut berbuat hal tersebut bukan karena dosanya karena dia belum mengerti. Tetapi kemarahan kedua orang tua yang tidak tepat pada waktunya tersebut bukan hanya merugikan diri mereka karena mereka gagal mendidik si anak, tetapi merugikan diri si anak. Dia harus kehilangan kedua tangannya karena kemarahan yang bodoh dari kedua orang tuanya.


Monday, 6 July 2015

Perihal Kebijaksanaan #9: Memilih Siapa Yang Menjadi Sahabat.



Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang. (Amsal 13:20)

Seorang yang bijaksana adalah seorang yang memilih sahabat. Sikap tersebut bukan berarti orang tersebut akan menjadi seorang yang rasis, bersikap diskriminatif, atau menjadi orang yang tidak mau berkomunikasi dengan orang yang tidak dianggap kategori seorang sahabat. Seorang bijaksana akan bergaul dan menjalin relasi dengan siapapun, bahkan dia sebagai murid Yesus yang sejati akan menjalin relasi kasih dengan musuhnya sendiri (Mat. 5:44). Terlebih lagi karena alasan seorang bijaksana haruslah menjadi garam dan terang bagi dunia. Artinya seorang bijaksana haruslah menjadi berkat baik bagi orang yang boleh menjadi sahabat ataupun tidak (Mat. 5:13).
Ketika kita membaca Amsal 13:20, Firman Tuhan ini seolah-olah meminta kepada orang bijak berteman hanya dengan orang bijak saja dan tidak boleh bergaul dengan orang bebal atau orang bodoh. Kita harus hati-hati di dalam menyimpulkan hal ini. Ketika kita salah kesimpulan, maka kita akan bersikap seperti orang Farisi, yaitu menjadi orang yang merasa diri orang yang paling suci dan benar (self-righteous), kemudian membenci orang lain yang kita anggap bukan orang bijaksana. Untuk bisa mengerti dengan lebih jelas, mari kita lihat kata “bergaul” dalam Amsal tersebut. Di dalam bahasa aslinya kata bergaul berasal dari kata halak yang secara literal berarti berjalan. Kata ini yang kita temukan ketika kita membaca versi bahasa Inggris. Namun selain berjalan, kata ini juga berarti hidup bersama, menempel, dan juga mengikut. Sehingga Amsal 13:20 kita bisa baca seperti ini: Siapa menempel (hidup/ mengikut) dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang. Jadi, ayat ini bukan menasihati seorang yang ingin bijaksana sekadar untuk berelasi, berkomunikasi, atau memiliki hubungan yang biasa-biasa saja dengan orang bijaksana. Tetapi Amsal meminta orang yang ingin bijaksana maka dia harus menempel dengan orang yang bijaksana. Maksud kata menempel di sini berarti sebuah hubungan yang begitu mendalam atau begitu merekat hampir tidak terpisahkan. Inilah persahabatan! Sehingga kita dapat simpulkan Amsal 13:20 meminta orang bijaksana untuk memilih sahabat yang pantas untuk dijadikan sahabat, yaitu orang yang bijaksana. Jangan mencari sahabat orang yang tidak bijaksana: orang yang bebal, orang yang jahat, atau orang yang tidak takut akan TUHAN.
Maka kita bisa membuat outline dari perintah ini sebagai berikut:
i.              Seorang yang bijaksana hanya bersahabat dengan orang bijaksana.
ii.            Seorang yang bijaksana boleh menjalin relasi ataupun komunikasi dengan siapa saja, bahkan seorang musuh sekalipun. Karena itu, seorang Kristen tidak mungkin menjadi seorang yang rasis, merendahkan orang lain, atau bersikap diskriminatif.

Mengapa orang bijaksana harus memilih sahabat yang tepat?
1.    Pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik. Paulus mengatakan bahwa kebiasaan yang baik akan rusak jikalau kita memiliki pergaulan yang buruk (1 Kor. 15:33). Bahkan Paulus mengatakan “Jangan sesat!”. Artinya, ada orang yang berpikiran sesat di dalam konsep persahabatan. Seperti apa konsep yang sesat itu? Sebagian orang Kristen merasa karena mereka memiliki fungsi menjadi garam dan terang, maka mereka mengira bahwa mereka boleh bersahabat dengan siapapun. Tentu ini adalah kesesatan. Apalagi jikalau alasan mereka bahwa Yesus juga bersahabat dengan orang-orang berdosa seperti pemungut cukai dan pelacur. Tentu Yesus tidak bersahabat dengan mereka! Yesus bersahabat hanya dengan orang-orang yang diberikan Bapa kepada-Nya! Tetapi yang pasti Yesus memiliki relasi dengan orang-orang berdosa! Tetapi hanya umat pilihan Allah yang menjadi sahabat Yesus, yakni orang-orang Kristen. Yesus sendiri mengajarkan tidak boleh bersahabat dengan orang Herodian, orang Farisi, dan orang Saduki. Mengapa? Karena persahabatan dengan mereka akan merusak orang Kristen! (Mat. 16:6; Mark. 8:15). Di dalam kisah Musa, Harun, dan Mirim, ada sesuatu yang begitu menarik yang bisa dipelajari. Musa adalah seorang yang memimpin umat yang senantiasa meregukan kepemimpinannya. Namun Harun dan Miriam adalah orang yang senantiasa mendukung kepemimpinan Musa. Bahkan merkea bertigapun pernah diragukan kepemimpinannya oleh umat Israel yang dipengaruhi oleh Korah. Tetapi justru sangat aneh, lama kelamaan Harun dan Miriam mulai berubah. Seiring berjalannya waktu, Harun dan Miriam yang senantiasa bersama-sama dengan orang-orang Israel terpengaruh oleh orang-orang Israel. Akhirnya bukan hanya orang Israel yang meragukan kepemimpinan Musa, tetapi Miriam dan Harun pun menjadi orang yang meragukan kepemimpinan Musa. Karena itulah Alkitab mengatakan bahwa kebiasaan yang baik akan rusak oleh pergaulan yang buruk. Satu hal yang pasti, ketika kita hidup di dalam dunia, tidak mungkin kita tidak dipengaruhi oleh sekitar kita. Apalagi ketika pengaruh tersebut terlalu dekat dengan kehidupan kita. Yang lebih parah: pengaruh tersebut adalah pengaruh yang buruk.

2.    Pergaulan yang baik akan membawa kebahagiaan di dalam hidup kita. Salah satu penyebab kebahagiaan dari kehidupan seseorang adalah apakah dia mendapatkan seorang sahabat yang tepat atau tidak. Di dalam beberapa waktu tertentu, statistika di Amerika Serikat mengkategorikan seseorang yang mendapatkan seorang sahabat yang baik adalah seorang yang sangat beruntung. Mengapa? Jikalau kita salah memilih sahabat maka bukan sukacita yang kita akan dapatkan, melainkan kepedihan melalui ketidaksetiaan, ketidakhadiran, dan penghianatan. Seorang sahabat yang sejati adalah seorang yang kehadirannya pun bisa memberikan kebahagiaan di dalam kehidupan kita. Karena itu, orang yang bijak akan mencari seorang sahabat yang tepat di dalam kategori Firman Tuhan. Earl C. Willer pernah menceritakan sebuah kisah nyata di dalam Perang Dunia II tentang dua orang sahabat sejak kecil Jim dan Philip mendaftar di dalam Marinir. Kemudian mereka dikirim ke Jerman. Yang sangat unik adalah mereka beruntung di dalam satu group yang sama. Di dalam satu perang yang begitu sengit, komandan mereka meminta pasukan untuk mundur karena serangan begitu sengit dari musuh. Semua orang mundur, tetapi Jim tidak melihat Philip kembali. Dia tahu bahwa jikalau sampai 2 menit dia tidak kembali, maka pasti Philip terluka dan tidak bisa kembali. Dia senantiasa menunggu dengan berdebar-debar, Philip tidak mucul juga sampai sudah 2 menit. Lalu Jim meminta izin kepada komandan untuk kembali ke medan perang untuk menjemput Philip. Namun permintaan itu ditolak karena dianggap itu adalah sebuah bunuh diri, temannya pasti sudah mati. Namun Jim menolak perintah komandan, lalu dia berlari sendiri ke medan perang. Ketika Jim berlari dia terus ditembaki oleh tentara Jerman tetapi beruntung Jim tidak kena satu peluru pun. Beberapa detik kemudian, teman-teman Jim melihat dari kejauhan bahwa Jim mengangkat tubuh seseorang, yaitu Philip. Philip telah meninggal dunia. Lalu komandan begitu marah mengatakan, “Sudah aku katakan! Kamu sia-sia saja menjemput temanmu! Kamu bunuh diri!” Tetapi Jim mengatakan, “Tidak komandan. Komandan salah. Ketika saya datang, itu adalah waktu yang sangat tepat. Philip mengatakan kepadaku: Jim, aku tahu engkau akan datang menjemputku.” Di dalam kesakitan, di dalam lukanya, Philip merasakan kebahagiaan karena temannya, Jim ada di dalam masa-masa sulitnya.
Amsal. 18:28 Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara. Bertemanlah dengan semua orang, tetapi bersahabatlah dengan orang yang tepat. Siapa mereka? Orang yang bijaksana, orang yang takut akan Tuhan.
Namun sekali lagi harus diingat, pilihlah sahabat yang tepat, tetapi tetaplah memiliki hubungan dengan orang-orang yang tidak di dalam kategori sahabat tersebut. Sikap bijaksana ini akan memiliki implikasinya:
i.              Kita tidak menjadi seorang yang dikriminatif,
ii.            Kita mendapatkan sahabat yang tepat yang membawa kebahagiaan di dalam hidup kita,
iii.           Kita bertumbuh di dalam karakter yang benar melalui persahabatan, dan
iv.           Kita tetap bisa menjalankan peran kita sebagai garam dan terang dunia.

Perihal Kebijaksanaan #8: Memberikan Kehidupan.

Amsal 13:14 Ajaran orang bijak adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat-jerat maut.

Pada Amsal kali ini, kita bisa menemukan setidaknya dua karakter orang bijaksana:
1. Tidak memiliki motivasi mencelakakan orang lain.
Seorang yang bijak tidak akan memiliki keinginan untuk mencelakakan orang lain. Tidak jarang orang yang memiliki kemampuan intelektual atau kecerdiakan yang luar biasa justru memanfaatkan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri, mengorbankan orang lain demi keselamatannya sendiri. Ini bukanlah karakter orang yang bijaksana, tetapi ini adalah karakter orang yang licik. Orang yang bijaksana bisa saja adalah seorang yang memiliki kemampuan nalar, analisa yang tajam namun digunakan untuk mempertahankan kehidupan, bukan untuk menjerat orang sehingga masuk ke dalam kecelakaan. Karena itu Amsal mengatakan ajaran orang bijak adalah sumber kehidupan.
Mengapa seorang yang bijaksana tidak akan pernah bermaksud untuk mencelakakan orang lain? Karena:
1.1.        Orang bijaksana adalah seorang yang takut akan Tuhan. salah satu bagian dari hikmat adalah Takut akan Tuhan (Amsal 1). Ketika seseorang adalah seorang yang takut akan Tuhan, maka dia akan senantiasa mentaati perintah-perintah Tuhan. Tuhan memerintahkan manusia untuk mencintai sesamanya, memperjuangkan kebaikan dan mempertahankan kehidupan sesama mereka. Inilah yang membuat orang bijaksana menjadi orang yang berjuang dan memberikan nasihat demi kebaikan dan kehidupan orang lain. Tetapi orang licik adalah seorang yang rela mencelakakan orang lain, mengorbankan orang lain demi kepentingan dirinya sendiri. Orang licik adalah seorang yang menghianati kehidupan manusia lain.
1.2.        Orang bijaksana mengidentifikasikan diri dengan orang lain. Karena dia mengerti bahwa dia juga tidak menginginkan dicelakakan oleh orang lain, sehingga dia juga tidak ingin mencelakakan orang lain. Seorang yang berhikmat akan sampai pemaknaan bahwa ketika orang mencelakakan dirinya maka dia akan mengalami kesulitan dan kepedihan. Sehingga dia mengidentifikasikan orang lain terhadap pemaknaan tersebut, maka dia sampai kepada kesimpulan orang lain juga akan mengalami kesulitan dan kepedihan yang sama seperti apa yang akan dia rasakan jikalau dia mencelakakan orang lain. Karena itu Isa Almasih mengatakan, "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. (Mat 7:12)
Hitler adalah salah satu orang yang paling tidak bijaksana di dunia ini. Dia berusaha memanfaatkan orang-orang Jerman untuk kepentingan pribadinya. Dia mengatakan bahwa orang Yahudi yang sebenarnya menyebabkan Jerman kalah pada PD I. Dia mengatakan bahwa Yahudi senantiasa memperkaya diri dan mengadakan pemberontakan dari dalam terhadap Monarki. Dia mempengaruhi seluruh orang-orang dengan mengatakan bahwa Yahudi adalah musuh dalam selimut, kalau tidak dihancurkan maka mereka akan menghancurkan kembali kejayaan Jerman dari dalam. Maka seluruh militer dan rakyat setuju untuk membumi hanguskan Yahudi dimanapun juga. 6 juta orang Yahudi dibantai karena perkataan Hitler tersebut. Setelah diteliti, Riecker mengatakan kepada Brithish Paper bahwa kebencian Hitler kepada Yahudi sebenarnya karena seorang dokter Yahudi bernama Eduard Bloch tidak berhasil menyelamatkan nyawa ibu Hitler yang terkena penyakit kanker. Karena itu dia mempersalahkan orang Yahudi, menyamakan semua orang Yahudi dan menggunakan seluruh fitnahan yang ada untuk membantai orang Yahudi.
Jerman kalah bukan karena orang Yahudi, tetapi karena:
-       tentara mereka tidak berhasil mengalahkan lawan di Barat dan Timur. Di barat harus melawan Inggris dan Prancis; di Timur harus melawan Rusia.
-       terlalu banyak wilayah yang Jerman kuasai sehingga membutuhkan tentara yang lebih banyak untuk menjaga wilayah yang dikuasai dan ini membuat tentara yang terbatas tersebar dan terpecah-pecah menjadi banyak.   
Tetapi Hitler karena rasa kebencian, memfitnah orang Yahudi. Lidah berbisa Hitler membantai jutaan Yahudi.

2. Bertanggungjawab terhadap pengajarannya. Pengajaran adalah sesuatu yang sangat penting bahkan bisa sampai mempengaruhi hidup mati seseorang. Ketika ajaran yang diberikan adalah sesuatu yang salah, maka ajaran tersebut bisa menjadi sumber kecelakaan, baik bagi orang yang diajar ataupun kepada orang lain.  Seorang pengajar bisa saja setiap saat dengan gampangnya menyesatkan orang lain. Karena seorang itu, seorang pengajar  akan diminta oleh Allah pertanggungjawaban yang lebih besar. Yesus mengatakan setiap orang yang dipercaya lebih besar akan diminta pertanggungjawaban yang lebih besar. Sebab ketika seorang guru mengajar dengan salah, maka itu dosa.  Mohammed Yusuf, orang Nigeria. Seorang rohaniawan Wahabi yang begitu kharismatik. Dia membentuk sebuah organisasi agama yang bernama Boko Haram di Nigeria yang dipimpin oleh pada tahun 2002.  Lambang dari organisasi ekstrimis tersebut adalah:
-       Dua sejata AK-47: yang selalu menjadi simbol perjuangan bersenjata dan keinginan untuk menggunakan kekerasan di dalam perjuangan.
-       Kitab Suci yang terbuka: simbol dari keinginan untuk memasukkan orang ke dalam iman yang dianut.
-       Kalimat shayadat agama yang dia percaya.
Artinya di dalam memperjuangkan iman dan menari orang masuk ke dalam agama yang dipercaya, kekerasan merupakan adalah cara yang sah untuk mencapai tujuan tersebut. Tidak mengherankan  pada 4 Mei 2015 berita mengatakan mereka menculik 977 anak-anak dan wanita tetapi berhasil dibebaskan oleh tentara Nigeria. Wanita-wanita tersebut mengaku mereka dipaksa untuk melayani seks para tentara dan juga beberapa mereka dijadikan perisai hidup waktu berperang agar tentara Nigeria tidak bernai menembak. Tidak hanya itu ratusan kekerasan terhadap tentara dan pemerintahan. Tetapi juga Mohammed Yusuf melegalkan pembantaian terhadap orang-orang sipil. Tahun 2009 Mohammed Yusuf dieksekusi. Tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi. 10ribu orang sudah terpengaruh terhadap ajaran Mohammed Yusuf ini. Akibat dosa pengajran dari Mohammed Yusuf maka 10rb orang menjadi ekstrimis, ribuan orang sudah menjadi korban kekerasan, dan negara-negera seperti Nigeria, Chad, Kamerun, Niger, dan Benin juga mengalami kekerasan dari Boko Haram ini.
Seorang yang berhikmat akan bertanggungjawab terhadap pengajarannya. Pengajarannya akan senantiasa diarahkan kepada tujuan yang mulia: membawa kehidupan bagi orang yang diajar dan kepada orang lain melalui orang-orang yang diajarnya.


Artikel Terpopuler

Saturn Devouring His Son - Fransico Goya (1819)

Salah satu lukisan yang paling mengerikan sepanjang sejarah: Saturn devouring his son yang dilukis oleh pelukis spanyol Francisco Goya (18...