Showing posts with label Tentang Film. Show all posts
Showing posts with label Tentang Film. Show all posts
Sunday, 25 September 2016
The Magnificent Seven
Mereka
disebut MAGNIFICENT karena menolong sesama mereka, mereka berjuang
untuk orang-orang yang membutuhkan. Mereka berjuang untuk mempertahankan
apa yang mereka tidak akan mereka miliki. Mereka MAGNIFICENT karena berkorban dan mempertaruhkan segala sesuatu demi KEADILAN.
Apapun latar belakang mereka, siapapun mereka pada masa lalu, tetapi keputusan penting: untuk berjuang mempertahankan kampung halaman orang-orang tertindas mengubah jati diri mereka untuk selama-lamanya menjadi THE MAGNIFICENT SEVEN.
Monday, 27 June 2016
Film Central Intelligence (2016) - "Tidak perlu sempurna untuk bisa memberi."
Satu tindakan belas kasihan dari Calvin dalam masa sulit mengubahkan
kehidupan Bob Stone (Dwayne Johnson) untuk selamanya. Mungkin bagi
Calvin itu adalah hal yang sepele tapi hal itu menjadi inspirasi Bob
Stone untuk selamanya. Meskipun Bob Stone sudah menjadi seorang "Jason
Bourne" namun baginya Calvin adalah pahlawan yang sesungguhnya, meski
Calvin memandang dirinya adalah seorang pecundang.
Ada pepatah yang mengatakan, "Tidak perlu sempurna untuk bisa memberi."
Monday, 18 April 2016
Film Eye in the sky - Sebuah Dilema Etika
Eye in the sky adalah film yang bagus karena mengajak kita untuk berfikir juga Apa yang menjadi solusi permasalahan yg ada. Inti Dari persoapan film ini adalah tentara Amerika sedang memata-matai para teroris yang sedang berkumpul di dalam satu ruangan dimana mereka berencana untuk melakukan bom bunuh diri. Menurut perhitungan para ahli, bom bunuh diri tersebut mampu membunuh 80 orang. Dengan kondisi tersebut, maka kesempatan tentara Amerika untuk membunuh mereka dengan bom kendali jarak jauh sebelum mereka melakukan bom bunuh diri.
Namun, altetnatif tersebut bukannya tidak memiliki resiko. Resikonya adalah warna di sekitar rumah yang ingin dihancurkan oleh tentara Amerika tersebut banyak warga sipil. Dimana mungkin ada 4 orang yang akan mati terkena bom kendali jarak jauh tersebut.
Karena kedua pilihan tersebut, maka tentara Amerika harus menimbang-nimbang pilihan mrk.
Ringkasan pilihan tersebut sbb:
1. Membiarkan para teroris tetap hidup keluar Dari rumah tersebut dengan kemungkinan bom bunuh diri mereka akan membunuh 80 orang.
2. Menghancurkan rumah dimana ada 2 orang pem bom bunuh diri tersebut namun resikonya orang di sekitar akan mati. Mungkin 4 orang. Salah satu diantaranya adalah seorang anak gadis yang sedang berjualan yang ada di dekat rumah yabg ingin dihancurkan tentara Amerika tersebut.
Beberapa tokoh yang memiliki pertimbangan:
1. Kolonel & para Perwira: menghancurkan rumah para teroris tersebut dengan pertimbangan warga sipil yang lebih besar yang sedang terancam oleh bom bunuh diri tersebut.
2. Wanita diplomat: memilih Untuk tidak membom tempat tersebut. Dengan pertimbangan bahwa Amerika memiliki tanggungjawab moral untuk mempertahankan nyawa, bukan mengorbankan nyawa dengan alasan apapun. Jikalaupun ketika mereka tidak membom tempat tersebut dan para teroris bisa berkeliaran dan melakukan bunuh diri, tanggungjawab tidak ada di tangan Amerika Serikat, tetapi para teroris tersebut.
Di dalam memilih yang mana harus dilakukan, maka mereka memiliki beberapa unsur yang harus dipertimbangkan:
1. Apakah keputusan mereka tidak bertentangan dengan konstitusi?
2. Apakah secara politis keputusan mereka berpengaruh terhadap hubungan luar negeri atau memiliki perang dengan negara yang bersangkutan?
3. Berapa jumlah korban jiwa jikalau mereka memilih salah satu opsi.
Di dalam pertimbangan yang panjang, maka Amerika Serikat memilih untuk opsi untuk meledakkan rumah para teroris tersebut, sebelum mereka beraksi. Pertimbangan tersebut dilakukan dengan penuh pergulatan. Mereka menimbang bahwa keputusan itu: tikak bertentangan dengan konstitusi. Secara politis mereka mungkin memiliki hubungan yang tidak baik dengan negara tersebut, namun isu itu bisa dibungkus oleh kepentingan masyarakat yang lebih banyak. Dibungkus dengan alasan bahwa demi untuk melindungi jawa puluhan orang lainnya. Dan memudian mereka berusaha meminimalisir korban jiwa yang akan terjadi dengan opsi mereka tersebut. Sebagaimanapun usaha mereka tetap ada korban jiwa. Salah satu korban jiwanya adalah seorang anak kecil yang berjualan di samping tembok rumah tersebut.
Ini adalah sebuah dilema di dalam mengambil keputusan dimana semua keputusan memiliki resiko. Mungkin ada yang memilih pertimbangan: JANGAN DILEDAKKAN, karena tanggungjawab kita adalah melindungi nyawa orang yang ada di sekitar rumah tersebut. Dengan alasan:
1. Bahwa urusan setelah itu, adalah tanggungjawab para teroris ketika mereka membunuh puluhan orang dengan bom diri mereka. Tanggungjawab kita adalah melindungi nyawa, bukan membunuh nyawa orang yang tidak bersalah. Mengapa dikatakan membunuh nyawa? Karena ketika meledakkan rumah tersebut, maka salah satu pertibangan kita secara sadar bahwa akan ada korban jiwa dari peledakan tersebut dan kita memilih untuk secara aktif untuk korban jiwa tersebut menjadi benar-benar ada.
2. Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Mungkin saja bom bunuh diri itu tidak akan terjadi. Itu adalah pertimbangan dan sikap antisipatif kita semata. Namun belum tentu hal tersebut akan terjadi. Kewajiban kita adalah sesuatu yang ada di depan mata kita, terlebih jikalau sesuatu yang terjadi di depan mata itu adalah keputuan kita.
Argumen tersebut memang rasional, tapi memiliki pertimbangan yang cukup NAIF ketika kita hidup di dalam dunia ini. Mengapa? Sikap antisipatif adalah sikap yang kita selalu jalankan di dalam dunia. Kita selalu mewanti-wanti, kita selalu menimbang-nimbang segala sesuatu kemungkinan yang terjadi. Perhitungan adalah riil di dalam kehidupan kita. Ketika kita memilih kampus biasanya kita memilih yang terbaik menurut pertimbangan kita. Kita akan memilih kampus dimana kita sekolah yang kemungkinan akan membawa masa depan kita yang lebih baik. Jadi, seringkali di dalam kehidupan kita, kita menimbang-nimbang result yang akan terjadi. Jadi, jikalau dengan alasan bahwa pertimbangan kita tidak harus terjadi memang benar, tetapi secara umum untuk mendapatkan keputusan yang terbaik, kita menggunakan pertimbangan.
Secara pribadi saya lebih memilih opsi untuk meledakkan tempat tersebut dan membiarkan ada korban jiwa ketika peledakan tempat tersebut karena secara perhitungan, maka resiko ini lebih kecil. Dan kita juga bertanggungjawab untuk melindungi nyawa orang yang lebih banyak lagi. Namun dengan beberapa langkah yang harus ditempuh: meminimalisir dengan usaha bahwa korban jiwa yang akan ditelan dengan keputusan kita sampai kepada angka "nol". Ketika hal tersebut tidak terjadi, maka dengan segala maaf dan sikap yang berat hati saya akan tetap memilih untuk opsi ini.
Tentu hal ini adalah keputusan yang bias. Keputusan tersebut mungkin akan lebih berat ketika korban jiwa yang minim itu salah satunya adalah anggota keluarga saya, seperti ayah, ibu atau anak saya. Mungkin keputusan itu lebih berat. Tetapi sejauh ini, pilihan saya tetap ada di dalam bagian: MEMILIH KORBAN JIWA YANG MINIM daripada sikap PEMBIARAN secara AKTIF terhadap korban jiwa yang lebih besar.
Namun, altetnatif tersebut bukannya tidak memiliki resiko. Resikonya adalah warna di sekitar rumah yang ingin dihancurkan oleh tentara Amerika tersebut banyak warga sipil. Dimana mungkin ada 4 orang yang akan mati terkena bom kendali jarak jauh tersebut.
Karena kedua pilihan tersebut, maka tentara Amerika harus menimbang-nimbang pilihan mrk.
Ringkasan pilihan tersebut sbb:
1. Membiarkan para teroris tetap hidup keluar Dari rumah tersebut dengan kemungkinan bom bunuh diri mereka akan membunuh 80 orang.
2. Menghancurkan rumah dimana ada 2 orang pem bom bunuh diri tersebut namun resikonya orang di sekitar akan mati. Mungkin 4 orang. Salah satu diantaranya adalah seorang anak gadis yang sedang berjualan yang ada di dekat rumah yabg ingin dihancurkan tentara Amerika tersebut.
Beberapa tokoh yang memiliki pertimbangan:
1. Kolonel & para Perwira: menghancurkan rumah para teroris tersebut dengan pertimbangan warga sipil yang lebih besar yang sedang terancam oleh bom bunuh diri tersebut.
2. Wanita diplomat: memilih Untuk tidak membom tempat tersebut. Dengan pertimbangan bahwa Amerika memiliki tanggungjawab moral untuk mempertahankan nyawa, bukan mengorbankan nyawa dengan alasan apapun. Jikalaupun ketika mereka tidak membom tempat tersebut dan para teroris bisa berkeliaran dan melakukan bunuh diri, tanggungjawab tidak ada di tangan Amerika Serikat, tetapi para teroris tersebut.
Di dalam memilih yang mana harus dilakukan, maka mereka memiliki beberapa unsur yang harus dipertimbangkan:
1. Apakah keputusan mereka tidak bertentangan dengan konstitusi?
2. Apakah secara politis keputusan mereka berpengaruh terhadap hubungan luar negeri atau memiliki perang dengan negara yang bersangkutan?
3. Berapa jumlah korban jiwa jikalau mereka memilih salah satu opsi.
Di dalam pertimbangan yang panjang, maka Amerika Serikat memilih untuk opsi untuk meledakkan rumah para teroris tersebut, sebelum mereka beraksi. Pertimbangan tersebut dilakukan dengan penuh pergulatan. Mereka menimbang bahwa keputusan itu: tikak bertentangan dengan konstitusi. Secara politis mereka mungkin memiliki hubungan yang tidak baik dengan negara tersebut, namun isu itu bisa dibungkus oleh kepentingan masyarakat yang lebih banyak. Dibungkus dengan alasan bahwa demi untuk melindungi jawa puluhan orang lainnya. Dan memudian mereka berusaha meminimalisir korban jiwa yang akan terjadi dengan opsi mereka tersebut. Sebagaimanapun usaha mereka tetap ada korban jiwa. Salah satu korban jiwanya adalah seorang anak kecil yang berjualan di samping tembok rumah tersebut.
Ini adalah sebuah dilema di dalam mengambil keputusan dimana semua keputusan memiliki resiko. Mungkin ada yang memilih pertimbangan: JANGAN DILEDAKKAN, karena tanggungjawab kita adalah melindungi nyawa orang yang ada di sekitar rumah tersebut. Dengan alasan:
1. Bahwa urusan setelah itu, adalah tanggungjawab para teroris ketika mereka membunuh puluhan orang dengan bom diri mereka. Tanggungjawab kita adalah melindungi nyawa, bukan membunuh nyawa orang yang tidak bersalah. Mengapa dikatakan membunuh nyawa? Karena ketika meledakkan rumah tersebut, maka salah satu pertibangan kita secara sadar bahwa akan ada korban jiwa dari peledakan tersebut dan kita memilih untuk secara aktif untuk korban jiwa tersebut menjadi benar-benar ada.
2. Kita tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Mungkin saja bom bunuh diri itu tidak akan terjadi. Itu adalah pertimbangan dan sikap antisipatif kita semata. Namun belum tentu hal tersebut akan terjadi. Kewajiban kita adalah sesuatu yang ada di depan mata kita, terlebih jikalau sesuatu yang terjadi di depan mata itu adalah keputuan kita.
Argumen tersebut memang rasional, tapi memiliki pertimbangan yang cukup NAIF ketika kita hidup di dalam dunia ini. Mengapa? Sikap antisipatif adalah sikap yang kita selalu jalankan di dalam dunia. Kita selalu mewanti-wanti, kita selalu menimbang-nimbang segala sesuatu kemungkinan yang terjadi. Perhitungan adalah riil di dalam kehidupan kita. Ketika kita memilih kampus biasanya kita memilih yang terbaik menurut pertimbangan kita. Kita akan memilih kampus dimana kita sekolah yang kemungkinan akan membawa masa depan kita yang lebih baik. Jadi, seringkali di dalam kehidupan kita, kita menimbang-nimbang result yang akan terjadi. Jadi, jikalau dengan alasan bahwa pertimbangan kita tidak harus terjadi memang benar, tetapi secara umum untuk mendapatkan keputusan yang terbaik, kita menggunakan pertimbangan.
Secara pribadi saya lebih memilih opsi untuk meledakkan tempat tersebut dan membiarkan ada korban jiwa ketika peledakan tempat tersebut karena secara perhitungan, maka resiko ini lebih kecil. Dan kita juga bertanggungjawab untuk melindungi nyawa orang yang lebih banyak lagi. Namun dengan beberapa langkah yang harus ditempuh: meminimalisir dengan usaha bahwa korban jiwa yang akan ditelan dengan keputusan kita sampai kepada angka "nol". Ketika hal tersebut tidak terjadi, maka dengan segala maaf dan sikap yang berat hati saya akan tetap memilih untuk opsi ini.
Tentu hal ini adalah keputusan yang bias. Keputusan tersebut mungkin akan lebih berat ketika korban jiwa yang minim itu salah satunya adalah anggota keluarga saya, seperti ayah, ibu atau anak saya. Mungkin keputusan itu lebih berat. Tetapi sejauh ini, pilihan saya tetap ada di dalam bagian: MEMILIH KORBAN JIWA YANG MINIM daripada sikap PEMBIARAN secara AKTIF terhadap korban jiwa yang lebih besar.
Sunday, 16 August 2015
Troy - Kisah Kehancuran Akibat Cinta Yang Tidak Sejati
Troy adalah salah satu film yang menceritakan tentang realita
kehidupan yang ironis. Kisah cinta yang dimiliki oleh pangeran Troy, Paris
membawa kehancuran dari Kerajaan Troy yang begitu berjaya dan tidak dapat
dikalahkan bahkan oleh Kerajaan terbesar, yaitu Yunani sekalipun. Kisah
kehancauran Troy ini bermula dengan sebuah cerita dimana raja Sparta, Menelaus yang sudah muak dengan peperangan mengundang kedua pangeran dari Troy
untuk mengadakan perjanjian perdamaian antara Troy dan Sparta. Namun di dalam
hari-hari merayakan perdamaian itu, salah satu pangeran Troy, Paris tidak bisa
menahan cinta nya terhadap istri raja Sparta, Hellen sehingga mereka melakukan
hubungan gelap selama berhari-hari. Bahkan setelah pulang dari perayaan
tersebut, dia membawa pulang istri raja Sparta tersebut. Sungguh ironi. Ketika raja
Sparta ingin mengadakan perdamaian, maka niat baik tersebut dikhanati.
Perdamaian dihancurkan karena cinta.
Tentu cinta Paris terhadap Helen bukanlah cinta yang
murni. Ketika mengetahui apa yang dilakukan oleh adiknya, Hector, pangeran
tertua dari Troy, melihat cinta yang dimiliki oleh adiknya bukanlah cinta
sejati. Sehingga dia mengatakan bahwa adiknya mengatakan bahwa dia ingin mati
untuk cinta. Padahal dia sendiri tidak mengerti apa itu kematian dan tidak
mengerti apa itu cinta. Apa yang dilakukan oleh Paris adalah sebuah gambaran sebuah
cinta yang bukan membawa kebaikan karena cinta tersebut bukanlah cinta yang
sejati. Cinta tersebut adalah iblis. Seorang penulis ternama asal Inggris, penulis
novel Narnia, C. S. Lewis mengatakan bahwa cinta akan berhenti menjadi cinta,
cinta akan menjadi setan ketika cinta tersebut mencoba untuk menjadi Tuhan. Pangeran
Troy tersebut melakukan apapun demi cinta buta tersebut. Padahal cinta yang
sejati pastilah bukan cinta yang merugikan orang lain. Cinta tersebut
dipertanyakan oleh kakaknya dengan mengatakan bahwa cinta tersebut membuatnya
menghianati cinta ayahnya, cinta tersebut akan membawa kehancuran kepada Troy.
Kisah cinta yang palsu tersebut, kisah cinta yang
buta, kisah cinta yang hanya mementingkan pemuasan nafsu sendiri tanpa
memperdulikan orang lain tersebutlah yang menjadi awal dan kepastian kehancuran
kerajaan Troy yang begitu besar. Cinta yang sejati tidak mungkin terwujud dalam
bentuk perasaan yang ingin menghancurkan kedamaian yang sudah dipelihara, cinta
sejati tidak mungkin menginginkan apa yang tidak pantas dia inginkan.
Ketika kita menghidupi cinta yang palsu seperti cinta
yang dimiliki oleh pangeran Troy tersebut, maka bersiap-siaplah karena kehancuran
sudah menunggu kita.
Thursday, 13 August 2015
Behind Enemy Lines: Sebuah Pesan Kesetiakawanan
Behind Enemy Lines adalah sebuah film yang dirilis
pada tahun 2001 yang dibintangi oleh Owen Wilson, yang di dalam film tersebut
memerankan tokoh yang bernama Burnett. Kisah ini diinsiprasikan oleh kisah
nyata pilot US Air Force, Scott Francis O’Grady. Film tersebut menceritakan
seorang navigator pilot yang bertugas bersama seorang pilot untuk mengambil
gambar tentang keadaan Bosnia yang sedang mengalami perang saudara. Untuk mendapatkan
foto yang lebih jelas, maka Burnett meminta sang pilot untuk lebih dekat ke
lokasi. Mereka tidak sadar bahwa lokasi itu adalah ladang pembantaian yang
dilakukan oleh tentara Bosnia. Untuk menutupi hal tersebut, maka pesawat
tersebut ditembak oleh tentara Bosnia. Beruntung kedua awak pesawat tersebut
sempat melontarkan kursi mereka dan menggunakan terjun payung. Hal tersebut
dilihat oleh tentara Bosnia dan mulai memburu mereka. Singkat cerita, sang
pilot ditemukan dan dieksekusi oleh tentara Bosnia. Disinilah mulai kisah sang
navigator, Burnett yang berjuang untuk mempertahankan kehidupannya.
Kesetiakawanan merupakan hal yang sangat diharapkan
oleh seseorang ketika menghadapi “musuh”: kesulitan ataupun masalah yang
terjadi did alam kehidupannya. Dalam kondisi tersebut seorang yang merasa
memiliki seorang sahabat akan mengharapkan sahabatnya untuk hadir dan siap
berkorban bagi dirinya. Film ini merupakan film yang menekankan jiwa kesetiakawanan
dari kesatuan US Navy. Ketika pilot diinterogasi oleh komandan tentara Bosnia
mengenai keberadaan rekannya, maka sang pilot siap untuk menerima konsekuensi
yang ada dan mengatakan bahwa dia hanya sendirian saja. Dia berusaha untuk
melindungi temannya agar tidak mengalami kesulitan seperti yang dia hadapi.
Karena pengakuan tersebut, maka pilot tersebut dieksekusi di tempat. Hal ini
kontras dengan kisah dari dua tentara Bosnia yang ditugasi untuk mengejar
Burnett. Ketika salah satu menginjak ranjau maka tentara yang lain mengorbankan
tentara tersebut agar tetap bertahan.
Tidak hanya sang pilot, Laksamana yang memimpin
kesatuan dimana Burnett berada juga memperlihatkan jiwa kesetiakawanan terhadap
anggota kesatuannya. Dia berjuang dengan keras untuk menyelamatkan anak
buahnya. Bahkan ketika diancam jikalau dia tetap ingin menyelamatkan anggotanya
tersebut, maka dia akan kehilangan komando nya terhadap kesutuan tersebut. Tetapi
dia tetap bersikeras untuk berjuang sedapat mungkin untuk menyelamatkan
anggotanya tersebut apapun yang menjadi risikonya. Ini adalah jiwa yang selfless yang dimiliki oleh seorang bos.
Bahkan dia sendiri yang memimpin pasukan penyelamat dan bersedia masuk ke area
peperangan yang terjadi. Dia tidak hanya selfless
tetapi juga bersedia berkorban bagi anak buahnya. Dari karakter ini kita bisa
belajar salah satu karakter seorang pemimpin yang baik adalah rela untuk
melindungi dan berkorban bagi bawahan atau anak buahnya. Seorang bos tidak
hanya meminta anak buah berkorban untuk dirinya tetapi dia juga siap untuk
berkorban untuk anak buahnya. Dia rela melindungi anak buah ketika mengalami kesulitan.
Di dalam akhir kisah film tersebut, setelah berhasil menolong Burnett, sang
Laksamana tetap kehilangan komando terhadap kesatuan tersebut. Namun dia berjalan
meninggalkan kapal induk dengan bangga dan mendapatkan penghormatan oleh
seluruh anak buahnya.
Apakah kita sudah menjadi seorang sahabat yang setia
dan rela berkorban, apakah kita sudah menjadi seorang pemimpin yang siap untuk
melindungi anak buah kita ketika mengalami kesulitan? Ataukah kita menjadi
seorang sahabat atau seorang pemimpin yang melulu tanpa henti mengorbankan sahabat
atau anak buah kita demi kepentingan atau keamanan diri kita?
Tuesday, 11 August 2015
The Flash & Makna Penderitaan Masa Lalu.
Di dalam satu episode film
seri superhero The Flash dimana The Flash bertemu dengan Arrow untuk melawan
salah satu musuh The Flash yang memiliki kekuatan yang mirip dengan Flash. Kalau
itu, The Flash memiliki kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan ingin
mengubah masa lalu, maka dia coba berkonsultasi kepada ayahnya yang dipenjara
bukan karena kesalahannya, dia dipenjara karena dianggap membunuh istrinya, ibu
Flash. Tetapi ketika The Flash ingin kembali ke masa lalu dan ingin mengubah
keadaan: ibu tidak terbunuh dan ayah bisa hidup bebas dari tuduhan, mendengar
tersebut, maka ayahnya tidak setuju dengan Flash. Ayahnya mengatakan masa lalu
terjadi karena memiliki alasan, mungkin kita tidak tahu apa yang menjadi
alasannya, tetapi semua hal terjadi memiliki alasan yang jelas dan ayahnya
mempercayai hal tersebut. Flash bersikeras untuk kembali kemasa lalu untuk
membuat masa lalu lebih indah, tetapi ayahnya menolak. Ayahnya bertanya kepada
Flash, “Bagaimana kamu menjadi orang yang berbeda karena kamu mengubah masa
lalu menjadi indah dan membuang seluruh kepahitan tersebut? Flash, “I don’t
care.” Tetapi ayahnya mengatakan, “but I care.” Ayahnya melanjutkan, “Bagaimana
jikalau kamu tidak menjadi orang yang sekarang. Kamu sekarang bertumbuh menjadi
orang yang luar biasa. Kamu menjadi orang yang dewasa. Kamu menjadi orang yang
baik. Bagaimana jikalau semua itu berubah dan kamu tidak menjadi orang yang
seperti sekarang.”
Keputusan The Flash tersebut, yang ingin mengubah masa lalu,
yang menyesali masa lalu adalah sikap yang sama, yang dimiliki oleh begitu
banyak orang. Tetapi seharusnya kita seperti ayah Flash yang percaya bahwa
Tuhan menggunakan seluruh keadaan yang terjadi, bahkan hal yang buruk, bahkan
kejahatan sekalipun untuk alasan yang jelas, sesuai dengan kehendak Allah. Kita
bisa mengingat kisah Yusuf di dalam Alkitab Perjanjian Lama. Yusuf seorang
perdana mentri yang begitu hebat. Dia adalah seorang yang baik dan menjadi
penyelamat dunia pada waktu itu. Dunia mengalami kelaparan tetapi Yusuf hadir
sebagai seorang pahlawan dan seorang yang bijak. Tetapi sebelum menjadi orang
yang besar, sebelum menjadi hero, maka Yusuf mengalami hal yang buruk di dalam
hidupnya: dia dibenci oleh kakak-kakaknya, dia mengalami kesulitan-kesulitan,
dia dijual, dijadikan budak, difitnah, diperlakukan secara tidak adil meskipun
dia menjadi orang yang berintegritas. Tetapi Yusuf menerima hal tersebut karena
mengerti bahwa segala yang terjadi pasti memiliki alasan karena Tuhan yang
mengendalikan segala sesuatu termasuk hal yang buruk. Yusuf mengatakan kepada
kakak-kakaknya, “Kamu mereka-rekakan yang jahat, tetapi Allah mereka-rekakan
yang baik.” Tanpa masa lalu yang terjadi maka Yusuf tidak akan memiliki
kesempatan menjadi orang yang begitu besar; tidak memiliki kesempatan menjadi pahlawan;
tidak memiliki kesempatan untuk melayani Tuhan dan dipakai Tuhan.
Bagaimana dengan kehidupan
kita, segala yang terjadi, bahkan hal yang buruk sekalipun, apakah kita bisa
melihat melampaui seluruh pemikiran kita yang egois, dan melihat segala kesulitan
tersebut memiliki tujuan yang baik oleh Tuhan.
Tuesday, 26 May 2015
The Purge: Anarchy (2014) - Kisah Kompleksitas Kehidupan Manusia.
Selain terkesan dengan adegan yang penuh
dengan kekerasan, film Purge: Anarcy adalah film yang layak diapresiasi karena
menggambarkan kompleksitas di dalam diri manusia. Film ini menceritakan tentang
seorang yang berkeinginan membalas dendam akan kematian anaknya. Dia sudah
menunggu waktu-waktu seperti malam tersebut dimana setiap orang dilegalkan
melakukan tindakan kriminal untuk membalas dendam. Dia menjadi seorang purger malam itu. Namun ketika dia ingin
melakukan rencana jahatnya, tIba-tiba dia menyaksikan aksi purger terhadap dua orang: ibu dan anak
gadisnya...
Pada saat itu dia dari seorang pro-purge menjadi anti-purge. Dia menyelamatkan
kedua orang yang ingin dibunuh tersebut. Ditambah lagi dua orang yang
bersembunyi di mobilnya. Maka dia memiliki beban untuk menyelamatkan empat
orang.
Ketika menjadi seorang anti-purge dia tetap ingin menjalankan purge terhadap orang yang
dianggap membunuh anaknya. Keadaan
tersebut menggambarkan kompleksitas diri manusia: satu sisi orang baik, satu
sisi di dalam diri orang baik tersebut ada sisi jahatnya; demikian juga
sebaliknya.
Namun, Film ini berakhir dengan happy ending. Di dalam
perjuangan menjadi orang kontra-purge atau pro-purge, dia memutuskan untuk
menjadi seorang anti-purge. Hal ini terbukti dia ketika tinggal menerik pelatuk
untuk membunuh targetnya, namun dia tidak melakukannya. Bahkan ketika dia
ditembak oleh seorang yang pro-purge, orang yang ingin dibersihkannya tersebut
menolongnya dan menyelamatkan nyawanya.
Wednesday, 13 May 2015
Fast Farious 7: Film Keren kurang makna.
Fast Farious 7 keren. Film menampilkan objek-objek yang berkualitas. Mulai dari mobil: Lykan Hypersport yg terkenal dapat mencapai 100 km/ jam hanya dalam waktu 3 detik; juga salah satu mobil termahal di dunia setelah Maybach dan Lamborgini. Kemudian ada juga martial artist ternama seperti Tony Jaa and Rounda Rousey. Kemudian menampilkan pemandangan-pemandangan dan kota-kota indah di dunia: seperti Dubai dan lainnya.
Tetapi sungguh disayangkan pesan film ini masih tidak berbanding lurus dengan kualitas objek-objek tersebut. Film ini merangsang adrenalin penonton dari awal sampai akhir Film. Ketika seseorang menonton film ini maka pesan yang ditangkap adalah tentang kekerasan, pembalasan dendam yang adalah jalan yang benar bagi seorang pahlawan.
Selain pesannya yang sangat kurang, ada beberapa alur cerita yang tidak logis. But, overall: menghibur!! Tp bukan untuk film yang nikmat untuk ditonton lebih dari satu kali.
The Lincoln Lawyer - Manusia Berdosa Berhati Nurani
The Lincoln Lawyer adalah sebuah film yang mengisahkan seorang pengacara bernama Mickey Haller (Matthew McConaughey) yang mencari uang dengan cara yang haram, yaitu melindungi para krimial di Los Angeles. Salah satu pelanggan jasa Haller ini adalah geng motor Harley Davidson yang dipimpin oleh Edie Vogel yang selalu berusaha untuk melepaskan anak buahnya dari hukuman penjara. Secara singkat, penulis dapat mengatakan bahwa karena yang paling banyak terkena kasus kriminal adalah para penjahat, maka mereka siap membayar pengacara untuk menolong mereka agar terbebas dari hukuman. Permintaan pasar tersebut dimanfaatkan oleh Haller untuk mendapatkan uang yang banyak.
Namun, sungguh aneh ketika Haller dimintai untuk menolong kasus dari seorang anak konglomerat di Long Angeles, Haller memperlihatkan dirinya bukanlah orang yang sangat jahat dan senantiasa menolong para penjahat. Dalam kasus tersebut, anak konglomerat tersebut mengklaim bahwa dia dijebak oleh pelacur agar dituduh sebagai orang yang ingin membunuh pelacur tersebut. Di dalam peneleitiannya, Haller mengingat ada sebuah kasus yang mirip yang pernah terjadi sebelumnya yang membuat seorang kliennya bernama, Jesus Martinez dipenjara. Martinez juga mengatakan bahwa bukan dia yang melakukan pembunuhan terhadap seorang pelacur yang ditemukan mati, ada orang lain di sana yang mungkin adalah pelaku yang sebenarnya.
Setelah melakukan beberapa penelitian, Haller menemukan data-data yang mengarahkan kepada kesimpulan yang berbeda dari pengakuan anak konglomerat tersebut. Seluruh data yang ada memperlihatkan kemungkinan yang paling mungkin adalah anak konglomerat tersebut memang adalah pelaku pencobaan pembunuhan pelacur tersebut, bukan orang yang menjadi korban jebakan si pelacur.
Saat itu, bagi Haller, uang bukanlah segalanya. Baginya kebenaran adalah kebenaran. Dia harus menegakkan dan lebih mementingkan kebenaran di atas segalanya, termasuk uang yang pada waktu-waktu sebelumnya dia kejar mati-matian, yang bahkan demi mammon tersebut, dia merelakan istri dan anaknya untuk berpisah darinya. Ini adalah saat-saat dimana terjadi titik balik dari sikap Haller terhadap para kriminal.
Film ini menegaskan tentang kehidupan seorang manusia yang berdosa yang mengalami kerusakan secara total (total depravity) yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupannya. Namun, manusia yang sudah mengalami kerusakan tersebut tetaplah manusia. Ketika menjadi makhluk yang berdosa maka manusia tidak pernah berubah menjadi setan. Mereka tetap memiliki kebaikan dan nurani di dalam diri mereka yang menjadi wakil Tuhan untuk menekan kejahatan mereka. Karena itu kita menyebut bahwa manusia berdosa adalah total depravity bukan absolute depravity. Contoh lain adalah Hitler. Seringkali Hitler dianggap sebagai setan yang tidak ada kebaikan sama sekali di dalam dirinya. Dia tidak dianggap sebagai manusia dan penghinaan tidak henti-hentinya dilemparkan kepadanya. Namun, seorang Hitler ini pernah membebaskan sebuah kota di Perancis dari keganasan Nazi karena permintaan seorang Pendeta kepadanya. Hal ini memperlihatkan bahwa Hitler sekalipun adalah seorang manusia yang meskipun rusak secara total, tetapi tidak rusak secara mutlak. Hanya iblis yang rusak secara mutlak dan kebaikan tidak pernah ada di dalam diri mereka. Hal ini harus mengubah cara pandang kita terhadap manusia yang kita anggap paling jahat sekalipun. Mereka harus tetap dipelakukan sebagai manusia, dihormati sebagai manusia terlepas dari seluruh kesalahan yang mereka lakukan. Namun tetaplah keadilan harus ditegakkan terhadap setiap manusia yang melakukan tindakan kriminal, tetapi pada saat yang sama kita tidak boleh memperlakukan mereka sebagai hewan yang tidak punya hak sama sekali.
Kisah manusia berdosa seperti Haller ini juga harus menjadi sebuah semangat bagi kita untuk mendidik dan mengaharahkan orang-orang yang terlihat tidak berpengharapan, orang yang terlihat selalu ingin berbuat jahat. Mengapa? Karena hati nurani masih ada di dalam diri mereka. Hati nurani itu haruslah kita asah sehingga mereka bisa ditikam dan dibatasi oleh hati nurani mereka sendiri. Memang surga bukanlah kita yang menentukan, bukan berarti ketika kita mendidik mereka maka mereka otomatis menemukan surga dimana Tuhan berada, karena Tuhan berbelaskasih kepada siapa Dia ingin berbelas kasih. Namun kedaulatan Tuhan tersebut tidak melepaskan kita dari kewajiban moral kita untuk menunjukkan jalah hidayah bagi mereka. Siapa tahu mereka adalah orang-orang yang memang Tuhan sudah rencanakan akan menjadi umat-Nya. Siapa tahu?!!
Saturday, 25 April 2015
Avengers 2: Age of Ultron: Menghibur namun Sarat Makna
Avengers 2: Age of Ultron
merupakan salah satu Film yang dinanti-nantikan oleh pecinta film superhero di
tahun 2015 ini. Film ini memang begitu spektakuler. Bagaimana tidak? Film ini memanja
penonton dengan efek komputer yang luar biasa, dan juga adegan-adegan dramatis
yang tidak kalah menarik. Meskipun tergolong sebagai film ringan dan menghibur,
Film Avengers 2 ini sarat pesan-pesan moral.
Musuh
utama dari Avengers pada film ini adalah Ultron. Siapakah Ultron tersebut?
Ultron ini merupakan hasil artificial inteligent dari Tony Stark yang kemudian
di dalam kisah selanjutnya diceritakan bahwa Ultron belajar dari Tony Stark bagaimana
menjadi orang yang ingin memusnahkan manusia dan Avengers. Jauh sebelum
lahirnya Ultron, sebenarnya Stark sudah menciptakan artificial inteligent yaitu
Jarvis. Jarvis diciptakan dalam konteks Tony Stark mengalami perubahan
kehidupan, perubahan paradigma dari seorang penjahat, seorang yang memiliki
kecacatan moral luar biasa menjadi seorang yang bertobat, seorang yang ingin
hidup benar, dan rindu untuk menciptakan perdamaian dunia. Untuk menggenapkan
cita-cita yang mulia tersebut, maka Tony Stark menciptakan sebuah artificial
inteligent, yaitu Jarvis, sebagai rekan kerja utamanya. Jikalau dibandingkan dengan
Ultron, Jarvis tidak memiliki kerinduan untuk memiliki tubuh sama sekali. Dia
sudah puas dengan kondisi yang sedemikian dan puas untuk senantiasa membantu
Stark dibalik kisah-kisah perbuatan superhero dari Stark. Jarvis puas untuk
berkomunikasi dengan Stark sebagai sebuah program komputer.
Berbeda
dengan Ultron. Ultron menginginkan tubuh agar mampu melakukan
pekerjaan-pekerjaan secara fisik untuk menggenapkan cita-cita yang diinginkan
oleh Stark, yaitu untuk menciptakan perdamaian dan ketenangan. Lalu bagaimana
caranya Ultron untuk melakukan itu? Ultron menganalisa segala sesuatu, membaca
seluruh dokumen dan menyimpulkan bahwa Avengers adalah hama dari dunia yang
harus dimusnahkan. Para Avengers memiliki monster di dalam diri mereka (hal ini
dapat disimpulkan di dalam kisah selanjutnya dari pembicaraan antara Romanof
dan Dr. Banner).
Jadi,
di dalam film ini ada dua artificial inteligent yang mewakili isi pikiran dari
Tony Stark: 1) Ultron: mewakili pikiran jahat Tony Stark; 2) Jarvis: mewakili pikiran
baik Tony Stark (pada kisah selanjutnya Jarvis juga mendapatkan tubuh yang jauh
lebih sempurna dari apa yang dimiliki oleh Ultron). Kedua sisi di di dalam diri
Stark ini saling bertempur satu dengan yang lain. Dan ternyata sisi baik dari
Tony Stark tetap lebih unggul dari sisi buruknya. Namun, jikalau kita
memperhatikan dengan seksama kisah sisi baik dan sisi buruk ini tidak hanya
berbicara tentang Tony Stark semata, tetapi juga mewakili seluruh Avengers.
Maksudnya adalah para Avengers, tanpa terkecuali juga memiliki sisi yang sama
seperti yang dimilik Tony Stark: sisi jahat dan sisi baik. Hal ini kita bisa
simpulkan dari beberapa adegan: mereka semua disihir untuk memimpikan keburukan
atau sisi buruk di dalam diri mereka sebagai ketakutan yang membuat mereka
merasa lemah dan tidak pantas sebagai seorang Avengers. Dan itu bekerja dengan
sangat baik sebagai sebuah serangan dari musuh. Sehingga Dr. Banner begitu
depresi ketika dia disihir dan berubah menjadi Hulk yang begitu ganas dan menghancurkan
kota dan melukai orang-orang yang ada di kota. Setelah tersadar maka dia begitu
menyesali bagian monster di dalam dirinya yang jikalau tidak dikontrol akan melukai
orang lain. Bukan hanya Stark, atau Dr. Banner. Romanof juga memikirkan hal
yang sama. Dia mengatakan kepada Dr. Banner, “Apakah kau kira hanya engkau saja
yang adalah seorang monster?” Maksud Romanof adalah dia juga memiliki sisi
jahat atau monster di dalam hidupnya. Di dalam kisah ini dari Film Avengers 2
ini adalah: tidak ada manusia yang sempurna, bahkan superhero sekalipun. Namun,
meskipun tidak sempurna maka kita harus berjuang, bertanggungjawab untuk
melakukan yang terbaik, melindungi orang-orang disekitar kita dan yakinlah: meskipun
kita memiliki sisi yang jahat tetapi kebaikan di dalam diri kita akan menang –
akhirnya para Avengers bisa mengalahkan seluruh ketakutan mereka akan kejahatan
di dalam diri mereka dan Tony Stark sendiri juga berhasil membuktikan bahwa kejahatan
di dalam dirinya tidak lebih besar dari kebaikan di dalam dirinya ketika dia
menyimpulkan bahwa Jarvis pun membutuhkan tubuh untuk mengalahkan Ultron.
Jikalau
kita mengikuti permainan dari sutradara, maka kita akan berpihak kepada Captain
Amerika bahwa Tony Stark keliru dan akan melakukan kejahatan lain dengan
memberikan Jarvis tubuh. Selain itu, Tony Stark berusaha untuk merayu Dr.
Banner untuk mengerjakan hal tersebut. Stark digambarkan bahwa pikiran jahatnya
akan menguasai dirinya lagi sebagaimana dia telah melakukannya ketika
menciptakan Ultron. Di dalam kisah pertarungan dua group tersebut: Captain
Amerika dan Stark, maka kita akan terpancing untuk mendukung Captain Amerika
karena Captain Amerikalah yang benar. Namun ternyata, di dalam perseturuan ini,
Captain Amerika-lah yang salah dan Stark lah yang benar. Memang Jarvis
membutuhkan tubuh untuk membantu Avengers mengalahkan Ultron. Adegan ini
membuktikan sisi baik Stark masih lebih kuat dari sisi buruk Stark.
Kita
sebagai manusia yang adalah gambar dan rupa Allah yang (seharusnya) sejati
seharusnya juga memiliki semangat yang sama. Kita tahu bahwa kita adalah orang
yang tidak sempurna, kita memiliki banyak kekurangan. Tetapi kita harus
senantiasa berkomitmen untuk hidup sebagaimana manusia hidup seharusnya dan
niscaya kita akan diproses dan sisi baik di dalam kehidupan kita akan lebih kuat
dan berkuasa dari pada sisi buruk kehidupan kita.
Friday, 28 November 2014
The Maze Runner dan Pembelajarannya
Di dalam artikel ini, penulis tidak akan menceritakan plot dari film The Maze Runner, tetapi penulis mengajak kita untuk belajar beberapa hal melalui film tersebut. Untuk mengetahui plot dengan lebih jelas, silahkan baca: http://en.wikipedia.org/wiki/The_Maze_Runner atau http://www.imdb.com/title/tt1790864/.
The Maze Runner bisa dibaca sebagai film yang mempromosi kelebihan dari teori evolusi, tetapi juga bisa dibaca sebagai Film yang mempromosikan tentang penderitaan atau kesulitan merupakan proses yang baik di dalam perkembangan diri. Penulis tidak sedang memperdebatkan teori yang mendasari film tersebut, namun penulis ingin mengajar kita belajar beberapa hal yang cukup signifikan untuk menjadi pedoman hidup kita.
Mari kita mulai dengan menganalisa beberapa tokoh yang ada. Beberapa tokoh yang dominan di dalam Film ini:
1. Thomas: seorang yang memiliki
- keyakinan yang tinggi bahwa kesulitan harus diatasi karena kesulitan tersebut seharusnya tidak membuat seseorang menjadi pesimis tetapi kesulitan tersebut harus dihadapi untuk mendapatkan hal yang lebih baik lagi.
- dinamis melihat aturan. Dia adalah seorang yang bukan anti terhadap aturan, tetapi melihat aturan tersebut adalah sesuatu yang berusaha membuat segala sesuatu menjadi lebih teratur. Namun peraturan tersebut tidak seharusnya membuat manusia menjadi buta dan tidak menjadi bersikap evaluatif terhadap peraturan yang ada. Jikalau peraturan yang ada tidak kontekstual dengan keadaan yang telah berubah, seharusnya peraturan tersebut bisa dilanggar atau diubah.
2. Gally: seorang yang pesimis dan super normatif. Dia adalah seorang yang melihat Thomas adalah seorang yang suka berbuat seenaknya karena Thomas adalah seorang yang ingin tahu banyak hal dan melakukan hal-hal yang melawan aturan yang sudah baku selama bertahun-tahun. Dia mengatakan, “Greenie (Thomas) should be punished.”
Selain pelajaran tersebut, ada beberapa prinsip lain yang penulis temukan di dalam film tersebut:
1. Manusia adalah tuan dari aturan. Di dalam film The Maze Runner tersebut berkali-kali kalimat berikut muncul: “everything is changing.” Jikalau sebuah peraturan tidak cocok dengan keadaan yang ada, maka aturan tersebut seharusnya boleh dilanggar atau diubah. Karena peraturan dibuat oleh manusia demi keteraturan, bukan peraturan dibuat untuk memperbudak manusia. Manusia yang diperbudak oleh aturan diperlihatkan oleh tokoh Gally yang bertanya, “Kita sudah memiliki aturan. Mengapa kita harus mempertanyakan peraturan itu lagi?”
Tidak jarang kita menemukan kisah-kisah dimana ada orang-orang yang berusaha untuk breakthrough terhadap aturan yang ada karena aturan tersebut tidak layak dipertahankan sebagai orang-orang yang dihuum oleh rule keeper yang diwakili oleh tokoh Gally. Namun sejarah membuktikan bahwa tokoh pemberontak aturan tersebut adalah seorang yang melakukan hal yang tepat di zamannya. Misalnya saja Galileo. Galileo mengatakan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta dan matahari tidak mengelilingi bumi, namun sebaliknya: bumi-lah yang mengitari matahari. Dia senantiasa bersikeras terhadap prinsip yang mereka tahu adalah benar. Namun hal yang dipercaya pada waktu itu adalah bumi ini datar dan memiliki ujung. Pada waktu itu institusi rohani: Gereja adalah pihak yang merasa berotoritas untuk menjaga aturan yang sudah dipercaya ribuan tahun sehingga Galileo harus dihukum karena kepercayaan mereka yang melawan normal yang sudah dianggap baku pada saat tersebut. Namun sejarah membuktikan yang dianggap penjahat pada waktu itu sebenarnya adalah seorang yang memegang kebenaran dengan melawan aturan yang telah ada.
Seorang filsuf sains, Thomas Kuhn mengatakan bahwa seringkali perkembangan ilmu pengetahuan bukan bersifat linear tetapi bersifat revolusi: perubahan yang radikal terhadap sesuatu paradigma yang dianggap sudah baku dan benar. Kuhn menggunakan istilah “paradigm shift”. Misalnya saja Rongent menemukan Sinar X bukan karena Sinar X tersebut belum ditemukan sebelumnya namun Sinar X tersebut melawan aturan baku ilmu tentang sinar pada waktu itu. Kuhn mengatakan begitu banyak ahli yang sebenarnya sudah menemukan sinar X, namun mereka berusaha untuk tetap berpegang teguh dan menjaga paradigma yang ada sehingga mereka melihat Sinar X merupakan sebuah kesalahan dari penelitian. Namun berbeda dengan sikap Rongent yang melihat kemungkinan paradigma yang harus diubah ketika melihat sinar tersebut. Karena itulah dia menemukan Sinar X dan alat Rongent yang kita kenal sekarang ini. Jadi, mempertahankan paradigma dan aturan terkadang mengalangi sebuah progress. Sebaliknya terkadang sikap kita adalah breakthrought terhadap peraturan atau paradigma yang ada.
Sikap kita adalah tidak langsung memberikan label kepada para “pemberontak” aturan sebagai orang yang tidak tunduk ataupun orang yang jahat. Karena sejarah membuktikan penjahat yang sebenarnya adalah rule keeper.
2. Kesulitan membuat manusia melewati keterbatasannya atau kondisi yang ada. Di dalam akhir film tersebut diperlihatkan bahwa sebenarnya mereka diletakkan di sana untuk sebuah tujuan, yaitu mereka bisa menjadi generasi yang lebih baik lagi, melawan setiap kelemahan yang ada yang telah menghancurkan/ membunuh generasi sebelumnya, yaitu virus yang tidak terobati yang mendiami otak manusia yang ada. Mereka dimasukkan di dalam Maze tersebut untuk melatih mereka melalui kesulitan yang ada sehingga mereka bisa mengalahkan keterbatasan mereka. Seharusnya kita juga memiliki sikap yang sama. Seringkali kita hanya ingat untuk mengeluh terhadap kesulitan yang kita hadapi dan lupa melihat pelajaran yang ada dari kesulitan tersebut. Peter Marshal mengatakan, "Tuhan tidak akan mengizinkan kesulitan datang kepada kita kecuali Dia telah memiliki rencana tertentu yang mana melalui itu (kesulitan), maka berkat yang besar akan datang."
Monday, 24 November 2014
Film Noah (2013) dan Pembelajarannya di dalamnya.
Setiap film pasti memiliki sumber ide di dalam pembuatan naskahnya. Ada yang bersumber dari imajinasi sutradara, ada yang berasal dari novel ataupun karya penulis lain, ada yang berasal dari ilmu pengetahuan alam, dan lain-lain. Demikian juga dengan Film Noah yang ditayangkan pada tahun 2013 lalu. Film Noah merupakan sebuah film yang dibuat dengan ide yang berasal dari Kitab Suci umat Kristiani, khususnya melalui kitab Kejadian. Film ini digarap oleh Darren Aronofsky yang juga menggarap film Black Swan. Meskipun film memiliki ide yang berasal dari Alkitab, bukan berarti film ini sesuai dengan Alkitab. Banyak hal di dalam film tersebut yang menyimpang dengan kisah-kisah yang ada di dalam Alkitab. Beberapa diantaranya:
- Iblis bertobat. Di dalam film tersebut diperlihatkan makhluk batu raksasa yang menolong Noah di dalam pembuatan bahtera. Makhluk batu tersebut bukan lain adalah malaikat yang menentang Sang Pencipta, yaitu Allah. Di dalam film tersebut dikisahkan bahwa mereka dibuang oleh Allah dari surga karena mereka mencoba menentang Allah. Kemudian mereka ingin membayar kesalahan masa lalu mereka, karena itu mereka menolong Nuh untuk membangun bahtera sebagai penggenapan akan perintah Allah kepada Nuh. Jadi, film tersebut mengatakan malaikat yang jatuh (iblis) ingin bertobat. Hal ini sama sekali bertentangan dengan Alkitab. Di dalam Alkitab, kita tidak bisa menemukan informasi bahwa malaikat akan mengalami pertobatan. Karena mereka tidak pernah direncanakan untuk ditebus oleh darah Kristus. Kristus hanya menebus umat manusia saja (Yoh. 1:1; 14; 1 Pet. 2:24). Selain itu Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa mereka bukanlah malaikat pilihan dari Allah. Apabila mereka merupakan malaikat pilihan mereka pasti akan setia kepada Allah (1 Tim. 5:21).
- Diantara anak Nuh, hanya Sem yang membawa istri. Di dalam kisah tersebut, sangat ditekankan bahwa Nuh tidak melihat ada wanita yang cocok untuk menjadi istri anak-anaknya karena manusia sudah jatuh ke dalam dosa. Namun ada seorang wanita yang bertumbuh dewasa di dalam keluarga Nuh, yaitu gadis yang Nuh tolong ketika seluruh suku dari gadis tersebut dibantai. Namun, di dalam Alkitab diceritakan bahwa ketiga anak Nuh membawa istri mereka ke bahtera, bukan hanya Sem (Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu, (Kej. 7:13 ITB)).
- Keluarga Nuh menentang banyak sekali keputusan Nuh. Keluarga Nuh digambarkan sebagai keluarga yang tidak taat kepada Allah dan juga kepada Nuh. Mereka seringkali menantang keputusan Nuh. Ham menantang bahkan dendam kepada Nuh karena Nuh membiarkan calon istri yang dibawanya mati begitu saja. Selain itu, Sem juga menentang perintah ayahnya ketika istrinya hamil. Bagi Nuh, hanya keluarganya yang diperintahkan Tuhan untuk selamat, tidak ada manusia lain bahkan keturunan dari keluarga Nuh yang belum lahir. Di sana Nuh ingin membunuh anak Sem jikalau yang lahir adalah pria. Namun Sem dan ibunya menentang keputusan Nuh dengan begitu keras. Pada penghujung akhir kisah film tersebut, dikisahkan bahwa Nuh pun tidak taat kepada keputusan Allah: untuk membunuh bayi laki-laki dari Sem. Jikalau dibandingkan dengan Alkitab, kisah bahwa seluruh keluarga Nuh ternyata adalah keluarga yang tidak taat sama sekali tidak diceritakan. Bahkan di Alkitab dikisahkan bahwa Nuh lah yang jatuh ke dalam dosa, kemudian Ham juga jatuh ke dalam dosa. Alkitab sama sekali tidak mengisahkan istri Nuh dan Sem adalah orang yang tidak taat kepada Tuhan. Ini merupakan kisah yang terbaik dari film Noah (2013).
Meskipun film tersebut banyak yang tidak sesuai dengan kisah yang berada di Alkitab, namun kita bisa belajar tentang pergumulan dari Nuh yang begitu berat ketika dia harus membiarkan manusia lain binasa karena dosa-dosa mereka. Menurut surat Petrus, Nuh sudah pernah memberitakan kabar sukacita, yaitu kabar keselamatan bagi mereka. Namun mereka tidak pernah mau percaya. Ketidakpercayaan mereka ini yang membuat mereka binasa dan hati Nuh sangat susah karenanya. Hal ini seharusnya ada di dalam kehidupan kita sebagai seorang manusia yang mengenal Tuhan. Seharusnya seorang manusia yang mengenal Tuhan merindukan agar manusia lain juga mengalami pengenalan dan hubungan yang erat dengan Tuhan, sang pencipta. Sebagaimana Paulus mengatakan bahwa Dia berhutang kabar sukacita kepada orang lain bahkan mengatakan dia rela mengganti dirinya dengan orang lain agar orang lain diselamatkan dan dirinya dibinasakan. Sungguh indah jikalau kita memiliki kerinduan dan beban yang dimiliki oleh Nuh dan Paulus. Beban seperti inilah yang membawa orang-orang rohaniawan Kristen untuk menjadi misionaris memberitakan kabar keselamatan dan juga hidup tanpa pamrih bagi orang-orang yang membutuhkan.
Wednesday, 29 October 2014
Film John Wick - Pembalasan Yang Tidak Beralasan.

Beberapa waktu yang
lalu, sebuah film, yang menurut beberapa kritikus IMDB.com adalah film action
yang terbaik untuk tahun ini (2014). Sebagai sebuah film action, seni bela
diri, atau yang lebih tepatnya seni membunuh John Wick digambarkan sebagai hal
yang menakjubkan. Dia disebut sebagai seorang yang fokus dan juga komitmen di
dalam melakukan tugasnya (membunuh). Film ini berkisah tentang seorang pembunuh
bayaran yang karena menemukan cinta sejatinya, berhenti dari dunia gelap
tersebut. Namun, beberapa tahun kemudian, cinta sejatinya meninggal dunia. Dia
mengalami kesedihan yang mendalam (meskipun akting Keanu Reeves tidak terlalu
bagus untuk adegan sedih), namun di dalam kesedihannya tersebut, dia
mendapatkan pengharapan dari pemberian terakhir istrinya, yaitu seekor anjing. Melalui
anjing tersebut John mendapatkan kembali semangat hidupnya (meskipun di dalam
film tersebut tidak terlalu jelas untuk menggambarkannya). Namun,
pengharapannya musnah ketika suatu malam yang tragis. Seorang remaja, yang
kemudian diketahui adalah anak dari mantan kolega John, datang ke rumah John
untuk mencuri mobil kesayangan John karena John tidak mau menjual mobil
tersebut. Namun yang lebih membuat John akhirnya ingin kembali ke dunia lamanya
dan membalas dendam adalah karena anjing pemberian terakhir dari istrinya
tersebut terbunuh.
Singkat cerita, John
dengan segala skill dan dibantu oleh teman baiknya berhasil membunuh pemuda yang
membunuh anjing tersebut dan juga membunuh ayah yang ingin melindungi anaknya
dan juga ingin membunuh John. Di pertengahan cerita, John yang seharusnya bisa dibunuh
oleh ayah dari pemuda tersebut karena John berhasil dilumpuhkan dan disekap,
tidak membunuhnya tetapi mengulur waktu yang akhirnya mengakibatkan John bisa
meloloskan diri karena bantuan temannya. Adegan ini merupakah hal yang cukup
aneh. John bukan digambarkan sebagai orang yang luar biasa, tetapi dia adalah
seorang yang penuh dengan keberuntungan. Akibat kelalaian musuhnya, John bisa
meloloskan diri. Hal ini tidak sesuai dengan gambaran yang diberikan di
permulaan film ini bahwa John yang bisa membunuh dengan sebuah pensil, John
yang tidak terkalahkan dapat dengan gampang dilumpuhkan di dalam klub malam
tempat dia mengejar pemuda yang membunuh anjingnya tersebut.
Di dalam film ini juga John
harus membunuh ayah dari pemuda tersebut juga karena dia telah membunuh teman
baik John. Puluhan bahkan ratusan orang harus membayar sakit hati John karena
nyawa anjing kesayangannya. Ini bukan merupakan sebuah hukum gigi ganti gigi –
mata ganti mata yang sepadan. Meskipun anjing John telah dibunuh, namun John
tidak memiliki pembenaran untuk melakukan pembalasan dendam dengan menghabisi
nyawa puluhan orang.
Berikut beberapa
kesimpulan yang penulis dapatkan ketika menonton film ini:
1.
Film ini tidak memperlihatkan situasi dramatis yang pantas yang membuat
John Wick harus demikian marah dan harus kembali ke dunia hitam.
2.
Akting Keanu Reeves tidak cocok ketika menggambarkan kesedihannya atas
surat dan pemberian terakhir yang diberikan oleh istrinya.
3.
Image kehebatan John akhirnya sirna di mata penonton karena di dalam kisah
tersebut berkali-kali John Wick di dalam kondisi yang seharusnya bisa mati:
3.1.
kalah bertarung tangan kosong dengan penjaga bar,
3.2.
tidak menyadari kekeran senapan jarak jauh yang menggambarkan sebenarnya
siapa saja bisa membunuhnya dengan cara demikian,
3.3.
ditangkap oleh ayah dari anak yang merampok yang sebenarnya bisa saja
membunuhnya jikalau tidak membuang-buang waktu.
4.
Yang paling mengherankan adalah apakah John Wick harus kembali ke dunia
hitam, membunuh banyak orang demi nyawa seekor anjing? Meskipun dapat dikatakan
bahwa anjing tersebut sangat berharga karena pemberian terakhir sang istri,
namun nilai itu terlalu rendah untuk membuatnya harus mencabut nyawa ratusan
orang. Hal ini juga mempelihatkan penulis naskah tidak mempertimbangkan ordo di
dalam ciptaan. Tentu manusia lebih berharga dari anjing. Nyawa seekor anjing
tidak pantas untuk diganti oleh satu nyawa manusia, apalagi nyawa ratusan
orang.
Film ini layak ditonton
dari segi seni beladiri, namun naskah film ini harus banyak yang direvisi,
seperti: motivasi kembali ke dunia hitam. Misalnya: dia kembali ke dunia hitam
karena istrinya yang terbunuh, atau mengincar orang-orang yang melakukan
penganiayaan terhadap orang-orang yang ada di dunia yang sekarang dia hidupi.
Secara alur cerita film ini merupakan film yang jauh lebih buruk dibandingkan
film kriminal-action yang lain seperti: A Walk Among The Tombstones, Equalizer,
bahkan Hercules sekalipun.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Artikel Terpopuler
Saturn Devouring His Son - Fransico Goya (1819)
Salah satu lukisan yang paling mengerikan sepanjang sejarah: Saturn devouring his son yang dilukis oleh pelukis spanyol Francisco Goya (18...
-
Salah satu lukisan yang paling mengerikan sepanjang sejarah: Saturn devouring his son yang dilukis oleh pelukis spanyol Francisco Goya (18...
-
Basilika menurut pengertian sekarang berarti gereja. Basilika St. Petrus terletak di Vatikan. Pada mulanya Basilika berarti bangunan...
-
Referensi: Kejadian 15:1-21. Pada bagian ini, janji Allah kepada Abraham yang sudah dinyatakan pada Kejadian 12 diulang kembali...





