Wednesday, 1 July 2015

The Way of Joy - Greg Olsen


The Way of Joy dilukis oleh Greg Olsen pada tahun 2014. Lukisan ini memperlihatkan kedua orang sahabat dan juga sepupu: Yesus dan Yohanes Pembaptis. Kedua orang tersebut digambarkan di dalam keadaan yang begitu sukacita (joy) meskipun kehidupan mereka di dalam dunia penuh dengan penderitaan dan kesedihan. Yohanes Pembaptis dipenggal oleh Herodes, Yesus disalibkan oleh Pilatus atas permintaan orang-orang Yahudi. Di dalam websitenya, Greg Olsen mengatakan bahwa kedua tokoh ini mengajak kita untuk bisa menikmati kehidupan yang penuh dengan sukacita, yaitu rasa berterima kasih kepada Tuhan, sukacita, dan melayani. Emosi-emosi cara kita untuk lebih dekat dengan Tuhan, bukan dengan cara hidup yang suram dan penderitaan yang tanpa henti sampai akhir. Memang benar bahwa emosi rasa cinta, sukacita, terima kasih, dan seluruh emosi yang positif adalah jalan kita untuk membawa kita lebih dekat kepada Tuhan; namun jikalau digali lebih lanjut sebenarnya sukacita lebih dari emosi-emosi positif. Alkitab dengan jelas mengatakan jikalau ingin menjadi murid Yesus (mendapatkan kebahagiaan) maka kita harus siap untuk memikul salib sama seperti Yesus yang memilikul salib. Bahkan ketika kita membaca mazmur, begitu banyak pemazmur yang mengalami penderitaan dan justru pada waktu kondisi demikianlah mereka semakin dekat kepada Tuhan dan mendapatkan sukacita. 

Meskipun ada beberapa hal yang bisa diperdebatkan tentang pola pikir Greg Olsen ini, namun lukisan ini memperlihatkan kepada kita dengan jelas bahwa kehidupan sukacita Yesus dan Yohanes pembaptis bukan hanya melalui jalan salib tetapi juga melalui jalan sukacita yang penuh dengan emosi yang positif: canda tawa, persahabatan, cinta, dan rasa terima kasih kepada Tuhan. Terima kasih Greg Olsen atas lukisan yang begitu luar biasa dan mengingatkan kami tentang sisi lain kehidupan Yesus dan Yohanes Pembaptis! 

Perihal Kebijaksanaan #5: Tidak Menghina, Tidak Memberontak, dan Tidak Menyombongkan Diri.


Jikalau engkau bijak, kebijakanmu itu bagimu sendiri, jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya. (Ams. 9:12)

Karakter orang bijak selanjutnya adalah “TIDAK MENCEMOOH”. Apa yang dimaksud dengan kata mencemooh di sini? Kata mencemooh bukan sekadar menghina. Di dalam bahasa aslinya kata mencemooh (ליץ) berarti:
1.    Mock (menghina). Seorang yang bijaksana adalah seorang yang tidak akan menghina orang lain. Karena menghina sesama adalah sebuah dosa dihadapan Tuhan: Siapa menghina sesamanya berbuat dosa (Amsal 14:21). Tidak ada alasan bagi orang bijak untuk dapat menghina orang lain. Baginya keterbatasan intelektual bukanlah hal yang harus ditertawakan tetapi sesuatu yang harus dikembangkan atau dididik. Ketika seorang yang memiliki keterbatasan intelektual tersebut sudah memeras diri dan melakukan terbaik maka itu bukan menjadi sesuatu yang hina. Seorang Kristen yang bijak mengerti: orang yang tidak pintar, orang yang jelek bukan merupakan faktor inferior atau superior tetapi merupakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada seseorang. Karena itu, ketika orang yang bijaksana melihat hal tersebut, dia melihat kepada dirinya bahwa dia juga dipercayakan sesuatu dari Tuhan yang tidak bisa digunakan sebagai bahan untuk membandingkan diri dan menghina orang lain.
Kata mock (menghina) senantiasa diasosiasikan dengan kata ridicule (menertawakan). Seringkali kita temukan orang-orang menertawakan kekurangan orang lain, dijadikan bahan lelucon dengan isi yang menghina. Mengapa orang lain tertawa? Karena melihat kerendahan orang lain dan melihat diri menjadi orang yang lebih tinggi.
Alkitab sangat tidak setuju dengan penghinaan. Kita bisa membaca berkali-kali Tuhan menghardik orang yang menghina orang lain. Misalnya anak-anak yang senantiasa mengejek-ejek pelayan Tuhan seperti Elisa, maka anak-anak tersebut dimatikan oleh Allah. Ketika Elisa dihina, “Naiklah botak, naiklah botak!” Maka tiba-tiba keluarlah dua beruang dan mencabik-cabik anak-anak tersebut (2 Raj. 2:23-4).
Mengapa Tuhan sangat benci dengan orang yang suka menghina orang lain? Karena Tuhan menganggap bahwa ketika seseorang menghina orang lain, sebenarnya juga sedang menghina Tuhan yang menciptakan orang tersebut. Karena itu Amsal mengatakan: Siapa mengolok-olok orang miskin menghina Penciptanya (Amsal 17:5).
2.    Rebels (memberontak). Pemberontakan merupakan hal yang sangat dibenci oleh Allah. Memberontak berarti melawan otoritas yang Tuhan sudah berikan. Jikalau seorang anak memberontak kepada orang tuanya, maka dia sedang melawan otoritas dari Allah yang diberikan kepada orang tua. Jikalau warga negara memberontak kepada pemerintah, maka warga tersebut sedang memberontak kepada otoritas yang berasal dari Allah. Demikian juga orang muda harus tunduk kepada orang yang lebih tua, istri harus tunduk kepada suami. Karena itu Paulus (Rom. 13:1-2), Petrus (1 Pet. 2:13; 18; 1 Pet. 3:1 Pet. 5:5), penulis Ibrani (Ibr. 13:17) dan rasul yang lain mengajarkan bahwa setiap manusia harus taat kepada otoritas yang diberikan Tuhan. Selama otoritas mengajarkan kita untuk hidup dijalan yang benar; atau tidak melarang kita untuk beribadah dan melayani Tuhan, maka kita harus tunduk secara total kepada pemerintah.

3.    Talk big (boasting). Orang bijak tidak akan menyombongkan diri. Mengapa? Karena dia sadar bahwa segala sesuatu yang secara pandangan manusia adalah hal yang lebih baik dari yang lain adalah anugerah dari Tuhan semata (sola gracia) sehingga baginya jikalau ingin memuji, pujilah Allah (soli deo gloria) yang memberikan hal yang lebih di dalam kehidupannya. Seorang yang banyak bicara adalah seorang yang menjengkelkan. Karena secara sadar dia sedang membanggakan orang lain dan menghina orang yang dia anggap lebih rendah dari dirinya.
Seorang yang menyombongkan diri juga adalah seorang yang pasti melakukan kebohongan. Mengapa? Pertama, karena dia berbohong menganggap bahwa apa yang dia lakukan itu berasal dari dirinya, padahal sebenarnya itu berasal dari Allah. Di dalam kamus Merriam-Webster, boasting berarti to express pride in oneself or one's accomplishments. Kedua, karena dia sedang membanggakan lebih dari apa yang sesungguhnya. Sebenarnya apa yang dia miliki tidak sebesar apa yang dia katakan. Namun demi membanggakan diri dan terlihat hebat, maka dia membesar-besarkan apa yang dia miliki atau yang dia telah lakukan ditambah dengan bumbu-bumbu di dalam percakapanannya sehingga orang begitu terkagum akan dirinya. Namun, ketika orang-orang sadar, maka orang yang membanggakan diri tersebut akan mendapatkan respon yang sebaliknya, yaitu penghinaan dari orang lain. Karena itu Amsal mengatakan jikalau engkau mencemooh, engkau sendirilah orang yang akan menanggungnya. (Ams. 9:12)

ARSITEKTUR KLASIK ROMAWI KUNO - Colosseum



Arsitektur Romawi Kuno merupakan perkembangan dari Arsitektur Yunani Kuno namun memiliki inovasi, yaitu lekukan dan kubah pada bangunan. Salah satu bangunan Romawi yang sangat terkeal adalah colosseum. Colosseum juga dikenal dengan nama Flavian Amphitheatre. Colosseum  adalah adalah amphiteathre yang berbentuk epis yang berada di kota Roma. Colosseum adalah amphiteathre yang terbesar yang pernah dibuat dan dianggap sebagai salah satu arsitektur yang terbesar dan termaju. Pembangunan amphiteatre ini dimulai pada zaman Vespasianus di tahun 72 M dan selesai pada pemerintahan Titus pada tahun 80 M. Modifikasi lebih lanjut terjadi pada zaman Domitian di tahun 81-96. Karena dinasti tersebut adalah dinasti Flavianus maka amphiteatre tersebut disebut sebagai Flavian Amphitheatre. Bagunan ini dibangun dengan biaya yang berasal dari hasil rampasan bait Allah milik Yahudi setelah Yerusalem dikepung oleh Romawi. Colosseum bisa memuat sekitar 80.000. Biasanya digunakan sebagai arena pertarungan para gladiator dan juga drama mitologi. Colosseum ini dianggap sebagai ikon kejayaan Romawi.


Sebagian dari bangunan ini hancur karena gempa bumi dasyat pada tahun 1349 dan pencurian batu-batuan. Namun sampai sekarang aristektur ini menjadi salah satu bangunan yang paling populer yang dikunjungi oeh turis dari seluruh manca negara. Orang-orang Kristen sendiri menjadikan bangunan ini sebagai salah satu bangunan religius. Pada tahun 1749, Paus Benedict XIV menganggap Colosseum adalah bangunan bersejarah karena begitu banyak martir yang mati di sana.  Sehingga dia melarang penggunaan bangunan ini selain untuk kepentingan religius

Perihal Kebijaksanaan #4: Orang Bijak & Kritikan.


Ams. 9: 7-9
Pada bagian ini, Amsal mengatakan bahwa ada dua jenis orang di dunia ini yang berespon terhadap kritik: pertama, orang berhikmat dan kedua, orang bodoh. Orang bodoh melihat setiap kritikan sebagai sesuatu yang negatif. Dia menganggap orang yang mengkritik adalah orang yang iri hati, orang yang tidak suka dengannya, atau orang yang kurang rohani. Orang bodoh selalu melihat dirinya adalah orang yang benar dan orang yang kritik adalah orang yang salah. Amsal mengatakan di ayat 8 bahwa ketika sesorang mengecam seorang pencemooh, maka orang tersebut akan dibenci oleh pencemooh tersebut. Seringkali orang yang menegur atau yang memarahi kita adalah orang yang mengasihi kita, tetapi ketika kita menolaknya sebenarnya kita bersikap seperti orang bodoh atau pencemooh. Amsal 12:15 mengatakan bahwa orang selalu menganggap jalannya benar; tetapi orang bijak mendengarkan nasihat.
Berbeda dengan orang yang bijaksana.Orang yang bijaksana tidak langsung menolak kritikan yang diberikan kepadanya.Bagaimana sikap orang bijaksana terhadap kritikan?
1.            Orang bijaksana melihat kritikan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Karena itu Alkitab mengatakan bahwa orang yang bijak akan mengasihi orang yang mengkritiknya. Salah satu kelemahan manusia adalah anti terhadap kritik. Manusia hanya ingin mendengarkan apa yang ingin mereka dengarkan, hanya ingin mendengar apa yang sedap oleh telinga. Padahal apa yang didengarkan bukanlah kebenaran, bukanlah sesuatu yang mengembangkan mereka ke arah yang lebih baik. Malahan apa yang mereka dengar adalah sesuatu yang menjadi kabut bagi mereka sehingga mereka tidak bisa melihat bahaya yang mengancam yang sedang datang ke arah mereka. 
          Suatu hari, seorang peminum arak menegur sesuatu kepada sorang raja. Dan raja tersebut dengan berlapang dada menerima teguran itu.Anak buah raja itu yang melihat keadaan itu merasa pelik dan heran lalu bertanya kepada sang raja: “Wahai raja, kenapakah tuan menerima teguran dia, sedangkan dia peminum arak? Sang raja menjawab: Ya, dia berdosa karena meminum arak tetapi tegurannya kepadaku adalah benar.”
Orang bijaksana mampu melihat kebahayaan ini sehingga dia siap menerima perkataan atau kritik yang tidak sedap didengar namun kritikan tersebut benar, mendasar, dan patut untuk diikuti. Bukan hanya menerima atau berterimakasih, bahkan dia mengasihi orang yang memberikan kritik terhadapnya.

2.            Orang bijak tidak menelan bulat-bulat seluruh kritik.Kapan seorang bijak tidak menerima kritik secara bulat-bulat?
2.1.    Ketika kritikan sebenarnya ingin menyerang. Ada beberapa orang yang ketika memberikan kritik, bukan demi kebenaran atau karena mencintai orang yang dikritik tetapi karena sebenarnya dia ingin menyerang. Mungkin dia tidak suka atau benci kepada orang tersebut sehingga dia mencari berbagai sela untuk memberikan serangan dalam bentuk kritik. Seorang bijak seharusnya tidak menerima kritikan orang yang seperti ini karena kritikan tersebut hanya bersifat ingin menyerang atau menjatuhkan mental orang bijak tersebut. Orang bijak lebih baik melihat kritikan seperti ini seperti angin lalu sehingga tidak perlu ter-discourage atau mengalami jatuh mental.
2.2.    Ketika kritikan tidak tepat/ tidak mendasar. Setiap manusia pasti memiliki pengertian yang dipengaruhi karena dosa. Karena itu tidak ada manusia yang tanpa pernah salah di dalam menilai segala sesuatu. Seorang yang bijak pasti mengerti hal ini sehingga dia meskipun melihat kritik sebagai kesempatan untuk bertumbuh tetapi tetap dia hati-hati untuk menerima kritikan yang ada. Jangan sampai kritikan tersebut malah membuat dirinya salah langkah.

3.            Orang bijak tidak dipanggil untuk bersikap menjadi seorang yang ingin populer.Jikalau ingin populer maka seseorang akan menerima pendapat kebanyakan orang lain sehingga dia dapat diterima oleh orang-orang secara mayoritas. Tipikal ini adalah tipikal orang-orang yang oportunis yang tidak bijaksana di dalam berespon terhadap kritikan. Dia hanya ingin memuaskan orang banyak, bukan ingin berespon secara benar terhadap kritikan yang ada. Misalnya saja Pontius Pilatus. Demi mendapatkan popularitas dari orang-orang Israel dia rela mengorbankan Anak Manusia yang tidak berdosa. Mengapa hal ini terjadi? Pontius Pilatus ingin tetap populer dimata masyarakat. Dia tidak peduli bahwa masyarakat itu adalah masyarakat yang bobrok yang tidak harus didengarkan pendepatnya. Pontius Pilatus sendiri mengerti bahwa Yesus tidak bersalah, tetapi dia tidak peduli. Bagina popularitas adalah segalanya. Orang bijaksana tidak akan mengorbankan hal yang lebih berharga: kebenaran demi mendapatkan yang lebih tidak berharga: popularitas.

Artikel Terpopuler

Saturn Devouring His Son - Fransico Goya (1819)

Salah satu lukisan yang paling mengerikan sepanjang sejarah: Saturn devouring his son yang dilukis oleh pelukis spanyol Francisco Goya (18...