Saturday, 22 August 2015

Sade - By Your Side | This song reminds me about my fiance, Thanks Darling.


"By Your Side"

You think I'd leave your side baby
You know me better than that
You think I'd leave you down when you're down on your knees
I wouldn't do that
I'll tell you you're right when you want
Ha ah ah ah ah ah
And if only you could see into me

Oh, when you're cold
I'll be there
Hold you tight to me

When you're on the outside baby and you can`t get in
I will show you you're so much better than you know
When you're lost and you're alone and you can't get back again
I will find you darling and I will bring you home

And if you want to cry
I am here to dry your eyes
And in no time
You'll be fine

You think I'd leave your side baby
You know me better than that
You think I'd leave you down when you're down on your knees
I wouldn't do that
I'll tell you you're right when you want
Ha ah ah ah ah ah
And if only you could see into me

Oh when you're cold
I'll be there
Hold you tight to me
Oh when you're low
I'll be there
By your side baby

Oh when you're cold
I'll be there
Hold you tight to me
Oh when you're low
I'll be there
By your side baby



Fiat 500! "LOVE IS FOUND!"

Fiat 500! - "I know my eyes already like you. I know that love... LOVE IS FOUND!" (Sade). #VintageWorld
















Sudahkah Kita Menjadi Seorang Yang Beragama Dalam Pengertian Yang Hakiki?

Agama seharusnya menjadi sebuah alat yang membuat manusia menyadari kebaikan dan memampukan manusia untuk bisa membedakan apa yang baik dan yang tidak baik. Membedakan disini bukan hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga berarti mempraktikkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali kita sebagai seorang manusia yang secara tidak sadar dipengaruhi oleh konsep dualisme Plato yang membedakan dua jenis dunia: ide dan realita. Kemudian kita menempatkan agama atau ibadah di dalam ranah ide, dan menganggap bahwa segala sesuatu yang bersifat ide adalah sesuatu yang tidak realistis, yang sulit dijalankan di dalam realita, merupakan sebuah utophia. Sehingga karena konsep pemikiran yang seperti ini maka kita tidak pernah memiliki semangat yang besar untuk mempraktikkan ide-ide agama di dalam dunia realita karena merasa bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang kontekstual di dalam kehidupan kita.
Kerusakan manusia yang beragama dimulai dengan konsep yang keliru ini. Tidak mengherankan manusia agama adalah manusia yang paling munafik. Di tempat ibadah mereka seperti makhluk yang lebih rohani dari malaikat, tetapi di dalam kehidupan sehari-hari lebih jahat dari setan sekalipun. Kita hanya menggunakan bahasa-bahasa agama hanya sebagai bahasa latah, seperti yang kita sering dengarkan di dalam film-film Holywood : “Oh my God, Oh Sweet Jesus, etc..etc..” padahal kehidupan kita jauh dari agama meskipun kita begitu paham konsep-konsep agama tersebut. Mengapa? Karena kehidupan kita adalah kehidupan yang mempraktikkan dunia Platonis. Dengan kata lain bahwa agama kita adalah Platonisme. Agama dalam arti yang sesungguhnya adalah sebuah kepercayaan yang membuat manusia untuk mengerti bagaimana cara menjalani kehidupan dihadapan Pencipta dan dihadapan sesama. Jadi, bukan sekadar pengetahuan tetapi juga sebuah hal yang dijalankan.

Sudahkah kita menjadi seorang yang beragama dalam pengertian yang hakiki? Coba renungkan pertanyaan ini. 

Friday, 21 August 2015

Old Guitarist - Pablo Picasso.

Ayah Pablo Picasso adalah seorang pengajar seni, sehingga dia dididik sejak dini sebagai seorang seniman. Ketika berumur 19 tahun, dia pindah dari Spanyol ke Paris. Di sana dia seolah-olah menjadi ikan kecil di dalam kolam yang lebih besar sehingga dia harus berjuang untuk tetap bertahan. Dia tahu apa itu artiya hidup melarat. Dia pernah hidup tanpa uang sepeserpun selama 1902. Picasso dikenal sebagai seorang yang memiliki perhatian yang besar terhadap keadaan buruk dari orang-orang yang tertekan. Beberapa lukisannya adalah gambaran dari keadaan yang mengerikan dari kemiskinan, penyakit, dan orang-orang yang terbuang dari masyarakat. Dia hidup dan mengidentifikakan diri terhadap masykarat yang terpinggirkan.
Kesedihannya semakin mendalam karena sahabat dekatnya bunuh diri. Lukisan ini dilukis pada 1903, ketika sahabat dekat Picasso, Casagemas, baru saja bunuh diri. Karena demikianlah dia sering menggunakan warna biru di dalam lukisannya untuk gambaran melankolik. Masa-masa ini dikenal sebagai “Blue Period” Picasso (1901-04).
Di dalam lukisan tersebut ada seorang pria tua bongkok dan buta. Buta adalah simbol dari seorang yang punya kekuatan inner vision.
Gitaris tersebut memperlihatkan tidak ada tanda-tanda kehidupan dan mendekati ajal, yang mengimplikasikan sedikitnya kesenangan di dalam dunia dan menekankan kepedihan situasi hidupnya. Namun, gitar coklat adalah satu-satunya perubahan warna yang ditemukan di lukisan. Warna gitar melawan seluruh background biru yang ada di dalam lukisan. Gitar tersebut juga memiliki posisi di tengah, yang berarti adalah pusat fokus dari sang gitaris tua dan orang yang melihat gitar tersebut. Gitar tersebut menggambarkan dunia sang gitaris dan satu-satunya menjadi pengharapan untuk tetap bisa tertahan. Ketika kita menghadapi situasi yang paling sulit, keadaan yang paling memedihkan, apa yang menjadi sumber pengharapan kita, yang tetap membuat kita untuk berjuang bertahan hidup?

Sunday, 16 August 2015

Troy - Kisah Kehancuran Akibat Cinta Yang Tidak Sejati

Troy adalah salah satu film yang menceritakan tentang realita kehidupan yang ironis. Kisah cinta yang dimiliki oleh pangeran Troy, Paris membawa kehancuran dari Kerajaan Troy yang begitu berjaya dan tidak dapat dikalahkan bahkan oleh Kerajaan terbesar, yaitu Yunani sekalipun. Kisah kehancauran Troy ini bermula dengan sebuah cerita dimana raja Sparta, Menelaus yang sudah muak dengan peperangan mengundang kedua pangeran dari Troy untuk mengadakan perjanjian perdamaian antara Troy dan Sparta. Namun di dalam hari-hari merayakan perdamaian itu, salah satu pangeran Troy, Paris tidak bisa menahan cinta nya terhadap istri raja Sparta, Hellen sehingga mereka melakukan hubungan gelap selama berhari-hari. Bahkan setelah pulang dari perayaan tersebut, dia membawa pulang istri raja Sparta tersebut. Sungguh ironi. Ketika raja Sparta ingin mengadakan perdamaian, maka niat baik tersebut dikhanati. Perdamaian dihancurkan karena cinta.
Tentu cinta Paris terhadap Helen bukanlah cinta yang murni. Ketika mengetahui apa yang dilakukan oleh adiknya, Hector, pangeran tertua dari Troy, melihat cinta yang dimiliki oleh adiknya bukanlah cinta sejati. Sehingga dia mengatakan bahwa adiknya mengatakan bahwa dia ingin mati untuk cinta. Padahal dia sendiri tidak mengerti apa itu kematian dan tidak mengerti apa itu cinta. Apa yang dilakukan oleh Paris adalah sebuah gambaran sebuah cinta yang bukan membawa kebaikan karena cinta tersebut bukanlah cinta yang sejati. Cinta tersebut adalah iblis. Seorang penulis ternama asal Inggris, penulis novel Narnia, C. S. Lewis mengatakan bahwa cinta akan berhenti menjadi cinta, cinta akan menjadi setan ketika cinta tersebut mencoba untuk menjadi Tuhan. Pangeran Troy tersebut melakukan apapun demi cinta buta tersebut. Padahal cinta yang sejati pastilah bukan cinta yang merugikan orang lain. Cinta tersebut dipertanyakan oleh kakaknya dengan mengatakan bahwa cinta tersebut membuatnya menghianati cinta ayahnya, cinta tersebut akan membawa kehancuran kepada Troy.
Kisah cinta yang palsu tersebut, kisah cinta yang buta, kisah cinta yang hanya mementingkan pemuasan nafsu sendiri tanpa memperdulikan orang lain tersebutlah yang menjadi awal dan kepastian kehancuran kerajaan Troy yang begitu besar. Cinta yang sejati tidak mungkin terwujud dalam bentuk perasaan yang ingin menghancurkan kedamaian yang sudah dipelihara, cinta sejati tidak mungkin menginginkan apa yang tidak pantas dia inginkan.

Ketika kita menghidupi cinta yang palsu seperti cinta yang dimiliki oleh pangeran Troy tersebut, maka bersiap-siaplah karena kehancuran sudah menunggu kita.

Saturday, 15 August 2015

Teks Proklamasi Klad & Generasi Muda - Sebuah Renungan untuk Hari Kemerdekaan

Proklamasi
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan
dengan tjara seksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17 - 8 - '05

Wakil2 bangsa Indonesia.

Teks di atas adalah teks proklamasi asli yang ditulis oleh Soekarno atas gubahan Drs. Mohammad Hatta dan Mr. Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo. Saya tidak tahu seberapa generasi muda yang masih melihat pentingnya makna proklamasi kemerdekaan ini. Ini merupakan sebuah kalimat bersejarah yang menjadi awal kedaulatan bangsa Indonesia. Pendorong terjadinya proklamasi itu sendiri adalah generasi muda. Mereka menculik Soekarno, Hatta, dan beberapa generasi senior lainnya ke Rengasdengklok untuk meyakinkan mereka bahwa inilah saat yang tepat untuk meyatakan kemerdekaan Indonesia dan agar Soekarno-Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang yang tidak ingin memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Jadi, dapat dikatakan bahwa generasi muda merupakan salah satu unsur paling penting di dalam kemerdekaan Indonesia.

Peranan generasi muda belum selesai. Sekarang Indonesia sudah medeka secara status, tetapi secara fakta, Indonesia masih jauh dari cita-cita proklamasi. Apakah generasi muda Indonesia melihat pentingnya peranan mereka di dalam mengisi kemerdekaan tersebut? Generasi muda yang melihat pentingnya mengisi kemerdekaan adalah generasi muda yang serius di dalam mengisi hari-harinya. Tanpa perjuangan maka generasi muda akan menjadi generasi yang loyo; tanpa cita-cita maka tidak ada kemajuan yang bisa dicapai oleh kekuatan muda. Soekarno pernah mengatakan, “Berikan aku sepuluh orang muda, maka aku akan mengguncangkan seluruh dunia.” Kalimat Soekarno ini berarti generasi memiliki kekuatan yang luar biasa. Kekuatan yang tidak bisa diremehkan karena kekuatan tersebut seperti sebuah ledakan yang bisa menghancurkan atau mengubah sesuatu. Semoga generasi muda sadar akan kekuatan tersebut. Seorang teolog pernah bertanya dengan keras kepada warga Indonesia, “Yang tua korupsi, yang muda tawuran? Mau jadi apa bangsa ini?” Pernyataan itu menampak wajah generasi muda Indonesia yang acap kali tidak bertanggungjawab di dalam menjalani masa-masa mudanya. Mereka hidup tanpa arah, mereka hidup hanya mencari kesenangan sementara, mereka hidup tanpa menyadari pentingnya peranan mereka di dalam mengisi kemerdekaan. Sehingga tidak heran bangsa Indonesia yang pada 17 Agustus 2015 telah genap merdeka 70 tahun, sangat mengalami perkembangan yang melamban. Berita di Televis, di Koran hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi yang harus digenjot sehingga bangsa Indonesia bisa bertumbuh lebih pesat. Tetapi proklamasi mengingatkan kepada kita bahwa pertumbuhan generasi muda yang bermental patriot, bertanggungjawab atas masa muda harus digenjot sehingga bangsa Indonesia bertumbuh dengan pesat karena kekuatan yang begitu besar telah mendorong bangsa ini ke arah yang lebih baik. Aset terbesar bukanlah emas, bukanlah infrastruktur, tetapi aset terbesar bangsa Indonesia adalah generasi  muda yang sadar akan makna proklamasi!

Thursday, 13 August 2015

Behind Enemy Lines: Sebuah Pesan Kesetiakawanan

Behind Enemy Lines adalah sebuah film yang dirilis pada tahun 2001 yang dibintangi oleh Owen Wilson, yang di dalam film tersebut memerankan tokoh yang bernama Burnett. Kisah ini diinsiprasikan oleh kisah nyata pilot US Air Force, Scott Francis O’Grady. Film tersebut menceritakan seorang navigator pilot yang bertugas bersama seorang pilot untuk mengambil gambar tentang keadaan Bosnia yang sedang mengalami perang saudara. Untuk mendapatkan foto yang lebih jelas, maka Burnett meminta sang pilot untuk lebih dekat ke lokasi. Mereka tidak sadar bahwa lokasi itu adalah ladang pembantaian yang dilakukan oleh tentara Bosnia. Untuk menutupi hal tersebut, maka pesawat tersebut ditembak oleh tentara Bosnia. Beruntung kedua awak pesawat tersebut sempat melontarkan kursi mereka dan menggunakan terjun payung. Hal tersebut dilihat oleh tentara Bosnia dan mulai memburu mereka. Singkat cerita, sang pilot ditemukan dan dieksekusi oleh tentara Bosnia. Disinilah mulai kisah sang navigator, Burnett yang berjuang untuk mempertahankan kehidupannya.
Kesetiakawanan merupakan hal yang sangat diharapkan oleh seseorang ketika menghadapi “musuh”: kesulitan ataupun masalah yang terjadi did alam kehidupannya. Dalam kondisi tersebut seorang yang merasa memiliki seorang sahabat akan mengharapkan sahabatnya untuk hadir dan siap berkorban bagi dirinya. Film ini merupakan film yang menekankan jiwa kesetiakawanan dari kesatuan US Navy. Ketika pilot diinterogasi oleh komandan tentara Bosnia mengenai keberadaan rekannya, maka sang pilot siap untuk menerima konsekuensi yang ada dan mengatakan bahwa dia hanya sendirian saja. Dia berusaha untuk melindungi temannya agar tidak mengalami kesulitan seperti yang dia hadapi. Karena pengakuan tersebut, maka pilot tersebut dieksekusi di tempat. Hal ini kontras dengan kisah dari dua tentara Bosnia yang ditugasi untuk mengejar Burnett. Ketika salah satu menginjak ranjau maka tentara yang lain mengorbankan tentara tersebut agar tetap bertahan.
Tidak hanya sang pilot, Laksamana yang memimpin kesatuan dimana Burnett berada juga memperlihatkan jiwa kesetiakawanan terhadap anggota kesatuannya. Dia berjuang dengan keras untuk menyelamatkan anak buahnya. Bahkan ketika diancam jikalau dia tetap ingin menyelamatkan anggotanya tersebut, maka dia akan kehilangan komando nya terhadap kesutuan tersebut. Tetapi dia tetap bersikeras untuk berjuang sedapat mungkin untuk menyelamatkan anggotanya tersebut apapun yang menjadi risikonya. Ini adalah jiwa yang selfless yang dimiliki oleh seorang bos. Bahkan dia sendiri yang memimpin pasukan penyelamat dan bersedia masuk ke area peperangan yang terjadi. Dia tidak hanya selfless tetapi juga bersedia berkorban bagi anak buahnya. Dari karakter ini kita bisa belajar salah satu karakter seorang pemimpin yang baik adalah rela untuk melindungi dan berkorban bagi bawahan atau anak buahnya. Seorang bos tidak hanya meminta anak buah berkorban untuk dirinya tetapi dia juga siap untuk berkorban untuk anak buahnya. Dia rela melindungi anak buah ketika mengalami kesulitan. Di dalam akhir kisah film tersebut, setelah berhasil menolong Burnett, sang Laksamana tetap kehilangan komando terhadap kesatuan tersebut. Namun dia berjalan meninggalkan kapal induk dengan bangga dan mendapatkan penghormatan oleh seluruh anak buahnya.
Apakah kita sudah menjadi seorang sahabat yang setia dan rela berkorban, apakah kita sudah menjadi seorang pemimpin yang siap untuk melindungi anak buah kita ketika mengalami kesulitan? Ataukah kita menjadi seorang sahabat atau seorang pemimpin yang melulu tanpa henti mengorbankan sahabat atau anak buah kita demi kepentingan atau keamanan diri kita?

Artikel Terpopuler

Saturn Devouring His Son - Fransico Goya (1819)

Salah satu lukisan yang paling mengerikan sepanjang sejarah: Saturn devouring his son yang dilukis oleh pelukis spanyol Francisco Goya (18...