Friday, 8 January 2016

Kisah Abraham adalah Kisah Tentang Allah, bukan tentang Abraham.



Melalui kisah Abraham yang telah kami renungkan beberapa waktu terakhir, kami menyimpulkan bahwa di dalam kisah Abraham, yang ditekankan adalah kisah Allah sendiri. Di dalam kisah tersebut, Abraham bukanlah “hero” tetapi Allah. Sama seperti kisah Abraham, setiap manusia senantiasa bimbang. Suatu saat beriman dan seolah-olah memiliki pengharapan yang tidak tergoyahkan, namun di waktu yang lain sangat rapuh, depresi, dan pesimis. Namun Tuhan senantiasa menguatkan manusia seperti Abraham. Abraham menjadi bapa orang beriman, bukan karena Abraham adalah seorang yang hebat, tetapi karena Allah menguatkan dan menopang iman Abraham. Tanpa pertolongan dari Allah, maka Abraham bukanlah siapa-siapa, tetapi Allah adalah pribadi yang menepati seluruh janji-janji-Nya apapun yang akan terjadi. Kisah kehidupan kita, yang terutama adalah kisah Allah yang menuntun dan menopang kita. Karena itu kita bisa memiliki sebuah kesadaran untuk mengandalkan Tuhan di dalam kehidupan kita. Di dalam kisah Abraham kita dapat mengerti bahwa Allah tidak pernah gagal dan Dia adalah pribadi yang bisa diandalkan. Pribadi yang menepati seluruh kata-kata-Nya, sehingga kita berani melangkah melihat masa depan.
Jikalau kita hanya mengandalkan diri kita, maka kita hanyalah makhluk yang penuh keraguan dan senantiasa salah mengambil keputusan. Karena itu, tidak ada alasan yang kuat yang mendorong diri kita untuk mengandalkan diri sendiri. Biarlah di dalam kehidupan kita, kita senantiasa mengandalkan Tuhan meminta tuntutan dari Tuhan.

Thursday, 7 January 2016

Kejadian 18 - Pentingnya Proses untuk Menerima Penggenapan Janji Allah.



Referensi: Kejadian 18.
Setelah belasan tahun dari kisah Kejadian 16, dimana Ismail sudah berumur 13 tahun , maka Tuhan secara fisik hadir dihadapan Abraham. Untuk menyatakan kembali penggenapan janji Tuhan tentang keturunan Abraham. Waktu yang begitu lama dinanti-nantikan oleh Abraham. Seringkali sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita memiliki mental instant. Tetapi di dalam berbagai kisah Alkitab, seringkali Tuhan menggenapkan rencananya di dalam jangka waktu yang lama. Di dalam proses penggenapan tersebut, Tuhan juga tertarik untuk memproses umat-Nya ketika menanti penggenapan akan janji Tuhan. Namun seringkali kita cenderung tidak sabaran, dan akhirnya jatuh kedalam sikap pragmatisme yang menginginkan segala sesuatu terjadi secara instant. Kita melupakan satu hal di dalam penggenapan janji Allah: proses kita dibentuk oleh Allah yang mempersiapkan diri kita untuk mendapatkan penggenapan janji tersebut. Sebagaimana yang terjadi di dalam kisah Israel yang masuk ke dalam tanah perjanjian ketika sudah menjadi suatu bangsa. Mereka dilatih oleh Allah untuk menjadi bangsa yang tanggung yang kisahnya dimulai dari perbudakan di Mesir, lalu perjalanan 40 tahun di padang gurun, peperangan demi peperangan untuk membentuk mereka menjadi bangsa yang tangguh dan mampu mempertahankan tanah perjanjian yang Tuhan sudah berikan kepada mereka dari bangsa lainnya. Musuh-musuh di sekitar mereka adalah bangsa-bangsa yang tangguh dan bangsa barbar yang hidupnya adalah peperangan, sehingga Tuhan tidak langsung memberikan tahan perjanjian tersebut kepada mereka, tetapi Tuhan memproses mereka untuk siap menerima penggenapan janji Allah.
Pada bagian ini kita juga bisa mempelajari tentang seorang yang dekat dengan Allah. Abraham di dalam kisah ini diperlihatkan sebagai seorang yang begitu mengenal Allah karena dia adalah seorang yang dekat dengan Allah. Ketika Malaikat Tuhan datang, maka Abraham langsung mengenali Malaikat tersebut adalah Allah, bukan sekadar malaikat. Dia memanggil malaikat tersebut dengan kata yang hanya ditujukan kepada Allah, yaitu Adonai. Kata tersebut hanya ditujukan kepada Allah yang suci dan satu-satunya. Karena itu kita langsung dapat mengerti bahwa seorang yang begitu rohani adalah seorang yang peka dengan kehadiran Allah, mengerti apa yang menjadi kehendak Allah. Kepekaan kepada Allah juga akan mengakibatkan seseorang hidup secara coram deo (in the present of God). Dia mengerti bahwa Tuhan sedang memandangnya dan karena itu sebagai umat Allah, dia senantiasa hidup selayaknya seorang yang hidup dihadapan Allah.
Sara istri Abraham adalah seorang yang kurang beriman kepada Allah. Ketika Allah menubuatkan bahwa Sara akan melahirkan anak untuk Abraham, maka Sara melihat bahwa Allah seorang humoris. Dia tertawa karena tidak mungkin dia bisa mengandung dan melahirkan karena dia sudah begitu tua. Namun janji Tuhan tidak perlu ditertawakan karena tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ini hal yang harus dicatat oleh anak-anak Tuhan: tidak ada yang mustahil bagi Allah. Segala sesuatu realita yang mungkin membuat kita sulit untuk beriman bahwa kehendak Allah akan jadi, realita yang menghimpit kita, kesulitan yang kita alami tidaklah boleh membuat kita untuk meragukan kuasa Allah. Janji Allah akan terlaksana, kehendak Allah akan jadi karena tidak ada yang mustahil baginya. Sama seperti membuka rahim Sara yang begitu mustahil di dalam cara pikir manusia, demikian jugalah kita harus percaya ketika Tuhan berkehendak, maka kehendak-Nya pasti terjadi. Sehingga di dalam keadaan yang paling mustahilpun kita tetap memiliki semangat di dalam menjalankan kehendak Tuhan. Zaman ini adalah zaman terlihat bahwa menjalankan prinsip Firman Tuhan begitu sulit. Segala sesuatu seolah-olah melawan seluruh perintah Tuhan. Ketika kita ingin menjadi orang yang tulus, maka kita akan dianggap sebagai orang bodoh atau bahkan akan dibodoh-bodohi dan dimanfaatkan. Namun, kita harus tetap percaya: Firman Tuhan, kehendak Allah, prinsip-prinsip yang harus kita hidupi, harus tetap dipertahankan, karena tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Wednesday, 6 January 2016

Kejadian 16:1-16 - Kebahayaan Jalan Pintas & Kebahayaan Melihat Realita Dengan Cara Yang Salah.

Referensi: Kejadian 16:1-16
Pada bagian Kejadian 15, diceritakan tentang kisah dimana Allah bersumpah secara serius dihadapan Abraham bahwa Allah akan menggenapi seluruh janji-Nya kepada Abraham. Hal itu adalah suatu cara yang Tuhan lakukan untuk menopang iman Abraham. Secara logis, seharusnya Abraham sudah sungguh-sungguh beriman kepada Allah tanpa keraguan sedikitpun. Namun, hal tersebut tidak kita temukan di dalam kejadian 16 ini. Justru kejadian 16 ini bertolak belakang dengan respon Abraham yang seharusnya. Abraham meragukan kembali janji Tuhan yang akan tergenapi melalui anak kandung Abraham bersama Sarai istrinya. Ketika Sarai memberikan Hagar kepadanya untuk dijadikan istri dan mendapatkan keturunan, Abraham meng-iya-kan anjuran tersebut. Abraham jatuh kedalam sikap pragmatisme. Abraham menjadi jalan pintas untuk menggenapkan rencana Tuhan. Hal yang sangat ironi dilakukan oleh Abraham: dia ingin menggenapkan rencana Tuhan tetapi bukan dengan jalan Tuhan, tetapi jalan yang dia anggap benar. Sikap Abraham adalah sikap yang kontradisi.

Jalan pintas yang dilakukan oleh Abraham dan Sarai menjadi malapetaka di dalam keluarga. Sarai dan Hagar saling menindas. Hagar terlebih dahulu menindas dan merendahkan Sarai secara psikologis, setelah itu Sarai membalas dendam dengan cara menindas Hagar secara fisik. Selain hubungan kedua wanita ini, hubungan Abraham dan Sarai, Abraham dan Hagar pun menjadi rusak. Tidak sampai di situ, Hagar juga mengandung seorang anak yang mana dia dan keturunannya akan senantisa menentang saudara-saudaranya, bahkan anak tersebut, yaitu Ismael menjadi musuh besar dari umat Allah selama ratusan tahun, bahkan masih terasa sampai sekarang. Inilah kebahayaan shortcut. Shortcut seringkali merupakan sebuah rencana yang dilakukan diluar cara Tuhan, dan ini bukannya akan membawa berkat tetapi membawa malapetaka kepada kita dan keluarga kita.

Kita harus waspada dengan cara tanggap kita terhadap realita yang terjadi. Seringkai realita yang terjadi membuat kita bukannya semakin beriman kepada Tuhan, tetapi semakin meragukan Tuhan. Sebagaimana Abraham yang beriman kepada Tuhan tetapi ketika dia melihat fakta yang terjadi bahwa dia dan istrinya tidak memiliki anak kandung, membuat Abraham meragukan Tuhan: “apakah Tuhan akan menggenapi atau tidak. Haruskah saya dan Sarai membantu Allah untuk menggenapkan rencana Tuhan?” Inilah yang terbesit di dalam pikiran Abraham dan istri ketika melihat fakta dan tidak mampu melihat rencana Tuhan dari fakta-fakta yang kita lihat disekitar kita. Tidak sedikit tokoh besar di dalam sejarah kekristenan mengalami keraguan terhadap Tuhan. Misalnya Ayub meragukan kebaikan Tuhan dan memilih untuk berteriak dan bergumul serta meragukan keadilan Tuhan. Demikian juga Yohanes Pembaptis. Dia semula yakin bahwa Tuhan menggenapkan rencananya melalui Mesias yang akan menyatakan kedamaian dan keadilan di dunia. Namun fakta yang terjadi Yohanes Pembaptis membuat Yohanes Pembaptis meragukan kemesiasan Yesus. Dia berpikir, “Jikalau Mesias hadir, maka keadilan pasti akan berjalan di dalam dunia secara sempurna.” Namun yang dia lihat bahwa dunia belum seperti apa yang dia impikan dan membuat dia meragukan Tuhan. Kita perlu ingat, ketika kita melihat realita yang sedang berjalan, sesulit apapun itu, maka kita harus melihat dari cara pandang Tuhan dan tetap beriman kepada Tuhan yang rela untuk bersumpah demi rencana-Nya.

Tuesday, 5 January 2016

Kejadian 15:1-21 - Abraham, Ketekuan Iman dan Allah yang Menopang Iman Abraham.

Referensi: Kejadian 15:1-21.
          Pada bagian ini, janji Allah kepada Abraham yang sudah dinyatakan pada Kejadian 12 diulang kembali. Allah mengingatkan lagi janji Allah kepada Abraham bahwa keturunan Abraham akan menjadi bangsa yang besar dan akan menjadi berkat bagi dunia.


          Melalui kisah ini setidaknya ada dua prinsip yang bisa kita pelajari:
1. Bertekun di dalam Iman.
Selama bertahun-tahun Abraham mengikut Tuhan, tetapi tanda-tanda penggenapan janji Tuhan pun belum terlihat sama sekali. Bahkan Abraham telah berpikir bahwa mungkin bukan anak kandungnya yang dimaksudkan oleh Tuhan. Maka dia memilih Eliezer sebagai anak angkat dan akan menurunkan nama keluar Abraham. Pada bagian ini, maka Tuhan kembali berbicara dan mengingatkan tentang janji Allah. Sekali lagi Abraham memperlihatkan bahwa dia benar-benar beriman kepada Tuhan. Abraham percaya dengan janji Tuhan tersebut dan dengan apa yang dilakukan Abraham itu, Tuhan melihat itu adalah sebuah kebenaran. Ini adalah iman yang begitu luar biasa dari Abraham. Tidak pernah terbesit olehnya untuk menyembah allah lain dan meninggalkan seluruh janji-janji Tuhan tersebut. Tidak pernah ada keinginan Abraham untuk menemukan janji dari allah lain yang lebih realistis secara pikiran manusia. Dia percaya bahwa Allah akan menggenapi seluruh rencana yang sudah dijanjikan oleh Tuhan. Bagi Abraham Allah adalah pribadi yang dapat dipercaya meskipun dia hanya melihat sedikit bagian dari janji Allah yang tergenapi. Abraham hanya melihat bahwa dia akhirnya memiliki keturunan yang menjadi cikal bakal bangsa yang besar tersebut, tetapi sama sekali Abraham tidak melihat bangsa yang besar tersebut. Dia hanya menikmati secuil dari janji Tuhan, namun dia tetap percaya bahwa Allah adalah pribadi yang dapat dipercaya. Inilah yang dikatakan oleh Yakobus dengan mengatakan bahwa ujian terhadap iman akan mendatangkan ketekunan. Dari Abraham kita bisa belajar tentang bagaimana untuk menjadi orang yang tekun di dalam iman kepada Allah. Ujian, pencobaan, masalah dan kesulitan yang kita hadapi seharusnya tidak membuat kita mundur dari janji dan kehendak Tuhan terhadap hidup kita.

2. Allah adalah Pribadi Yang Aktif Menolong Iman Umat-Nya.
          Selain itu dalam bagian ini kita juga menemukan sebuah prinsip bahwa Tuhan adalah Tuhan yang senantiasa menolong umat-Nya untuk beriman kepada-Nya. Pada bagian ini Tuhan perlu mengingatkan kembali janji ini kepada Abraham karena mungkin Abraham bisa saja akan mulai meragukan janji Tuhan. Bahkan Allah sendiri berani bersumpah untuk meyakinkan Abraham. Perjanjian ini adalah perjanjian antara Allah dan umat-Nya, namun ketika Allah bersumpah akan menggenapkan perjanjian-Nya maka Allah menempatkan diri lebih rendah dari umat-Nya itu. Hal ini terbukti dengan apa yang dilakukan Allah ketika meminta Abraham memotong binatang menjadi dua bagian dan kemudian Allah melewati potongan binatang tersebut. Artinya Allah bersumpah bahwa Allah akan mengalami nasib yang tragis seperti binatang tersebut jikalau Tuhan tidak menepati janji-Nya. Namun Tuhan tidak meminta Abraham untuk bersumpah dengan cara yang sama. Artinya Allah merendahkan diri-Nya dihadapan Abraham hanya untuk meyakinkan dan menguatkan iman Abraham untuk lebih beriman lagi kepada Allah. Abraham adalah pribadi yang lemah. Dia adalah orang yang juga berdosa. Karena fakta inilah Tuhan rela untuk menolong Abraham untuk tetap beriman kepada Tuhan. Karena itu seharusnya seorang Kristen tidak boleh memiliki keseombongan rohani dan merasa diri sebagai orang yang kuat. Sebaiknya seorang Kristen yang memiliki kerohanian yang baik akan senantiasa berdoa kepada Tuhan, “Tolonglah aku yang tidak beriman ini.”


Monday, 4 January 2016

Kejadian 13:1-18 - Kehancuran Lot Akibat Sikap Materialisme dan Egoisme

Referensi: Kejadian 13:1-18.
Alkitab menceritakan tentang kebijaksanaan Abraham ketika berseteru dengan koleganya sendiri. Pada bagian ini, Abraham dan Lot, keponakannya mengalami perseteruan yang dimulai dari perseteruan antara gembala Abraham dan Lot. Mungkin perseteruan ini semakin memanas sehingga mempengaruhi hubungan antara Abraham dan Lot. Namun Abraham adalah seorang yang begitu mementingkan hubungan keluarga lebih daripada harta benda karena Abraham sadar bahwa hubungan jauh lebih penting dari materi. Melihat keadaan yang demikian semakin parah, maka Abraham mengajak Lot untuk melakukan perundingan damai. Abraham meminta Lot untuk memilih terlebih dahulu tempat yang dia sukai, kemudian Abraham akan mengambil tempat lain sehingga mereka hidup tempat yang berbeda sehingga tidak terjadi perseteruan.
Lot adalah seorang muda yang memikirkan begitu banyak kesempatan dan menginginkan kesuksesan sedini mungkin. Dengan seluruh pertimbangan ekonomi, maka Lot memilih lembah Sodom yang secara fakta begitu subur. Namun Abraham membiarkan hal itu terjadi meskipun secara hitungan di atas kertas akan merugikan Abraham. Tetapi Abraham adalah seorang yang matang rohani. Dia tidak melihat kerugian materi yang paling utama, tetapi relasi antara Abraham dan Lot harus tetap terjalin dan bahkan lebih daripada itu, Abraham tidak menggantungkan kehidupannya kepada kekayaan yang bisa dia capai tetapi kepada Tuhan yang akan bekerja dan menggenapi janji-Nya kepada Abraham.
Selain materialis, Lot juga adalah seorang yang egois. Dia hanya mementingkan kepentingan diri dan keluarganay semata dan tidak memperdulikan kehidupan Abraham. Abraham adalah paman dari Lot. Tentu Abraham adalah seorang yang sudah tua. Namun Lot sama sekali orang yang tidak memperdulikan penghidupan Abraham dan keluarganya. Dia tega membiarkan seorang tua mendapatkan daerah yang kurang tandus dan akhirnya mungkin akan membanting tulang demi melanjutkan kehidupannya. Lot memilih tempat yang paling subur dan membiarkan Abraham bergumul sendiri akan penghidupan masa depannya. Seorang Lot lebih muda, dia mampu bekerja lebih keras daripada Abraham, namun dia hanya berdiam dan menutup mata akan realita tersebut.
Pada bagian selanjutnya terbukti bahwa cara berpikir Lot yang serba mementingkan keuntungan ekonomi dan sikap egois itu ternyata salah dan menghancurkan kehidupannya dan keluarganya. Dia hidup ditengah-tengah para pendosa yang memiliki penyimpangan sexual. Bahkan dikatakan lagi bahwa Lot ketika didatangi oleh Abraham sedang berada di pintu gerbang. Ini adalah ungkapan yang menyatakan bahwa Lot adalah salah satu penatua atau petinggi di daerah Sodom. Lot adalah seorang yang beriman kepada Allah, tetapi karena kepentingan materi maka Lot menjadi orang yang kompromi terhadap dosa-dosa yang ada. Sehingga dia membawa kehancuran kepada keluarganya sendiri. Di dalam kisah penghukuman Allah kepada Sodom dan Gomora, maka istri Lot menjadi tiang awan, dan kedua putri Lot sengaja meniduri ayahnya karena kedua anaknya pun mungkin terpengaruh terhadap immoralias sexual di Sodom.
Kisah tersebut merupakan pelajaran bagi kita manusia yang semata-mata hanya memikirkan kepentingan ekonomi, kekaayaan untuk memutuskan segala sesuatu. Jikalau kehidupan kita didorong oleh hal tersebut, nisacaya kita akan hidup seperti Lot. Kita menjadi orang yang menomor sekiankan relasi persaudaraan dan juga hidup kompromi dengan segala bentuk dosa demi mendapatkan pencapaian materi dan kesuksesan.

Pelajaran yang kita bisa temukan dari bagian ini adalah: ketika kita mempertimbangkan untuk memilih antara ini atau itu, seharusnya yang paling pertama pertimbangan kita bukan masalah keuntungan ekonomi atau memuaskan keegoisan kita, tetapi menggantungkan pengharapan dan masa depan kita kepada Allah. Kita harus memilih sesuatu yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan menggenapkan rencana Tuhan. Hal ini terbukti bahwa meskipun Abraham bersikap menomorduakan kekayaan, tetapi Tuhan tetap memelihara Abraham dan keluarganya sehingga semakin lama menjadi bangsa yang semakin besar. Abraham percaya, apapun yang terjadi, Tuhan tetap akan menggenapkan rencananya. Karena itu tidak ada alasan untuk Abraham harus memilih jalan yang penuh kebusukan untuk menggenapkan rencana tersebut. Marilah kita juga hidup beriman seperti yang Abraham lakukan, bukan seperti Lot. Pertimbangan dan kebijakan ala Lot adalah seperti yang dikatakan oleh penulis Amsal: Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12)


Sunday, 3 January 2016

Kejadian 12:1-20 - Belajar Menyangkal Diri Melalui Panggilan & Kehidupan Abraham

Referensi: Kejadian 12:1-20

Hari ini bersama istri belajar tentang panggilan Allah terhadap Abraham. Abaraham adalah seorang yang dipanggil oleh Tuhan untuk menjadi satu bangsa yang akan menjadi model tentang kasih perjanjian antara Tuhan dan manusia. Namun panggilan yang diterima oleh Abraham bukan sesuatu yang mudah. Panggilan ini punya harga yang harus dibayar. Jikalau kita membaca secara seksama kisah tentang Abraham, kita akan mendemukan indikasi bahwa Abraham adalah seorang yang sukses di negara nya, memiliki bisnis berjalan cemerlang dan juga kemampuan militer yang mumpuni. Dia adalah seorang yang mampu mengalahkan empat raja dari berbagai negara bahkan mengejar mereka ketika melarikan diri (Kej. 14:1-16). Dia adalah seorang yang dihargai oleh bangsanya. Namun dalam kondisi seperti itulah Abraham dipanggil.

Setiap Panggilan Tuhan pasti ada risiko yg diambil juga. Panggilan Abraham membawa dia menjadi orang yang hidup di dalam serba keterbatasan karena harus meninggalkan kesuksesannya di tempat asalnya. Dia harus menghadapi ancaman para penjahat yang ingin menyerangnya dan keluargaanya. Jikalau Abraham tidak pergi maka dia tidak perlu pergi ke Mesir karena kelaparan dan akhirnya memiliki kasus penipuan terhadap Firaun.  Panggilan Tuhan seringkali penuh penderitaan dan menuntut penyangkalan yang luar biasa.
Di dalam kondisi yang sulit inilah justru menjadi kesempatan kita untuk menyatakan iman kita kepada Tuhan dan menjadi saksi terhadap orang-orang yang ada di sekitar. Melalui penggilan dan pengorbanan yang kita lakukan, orang mengerti apa yang menjadi hal yang terpenting di dalam kehidupan manusia. Manusia seharusnya mementing rencana dan kehendak Tuhan jadi di dalam kehidupannya. Namun seringkali begitu banyak hal seperti keuangan dan kesuksesan membuat orang lebih memilih untuk tidak mengikut Tuhan. Ketika kita hidup menjadi orang yang mengutamakan Tuhan, maka kita dapat menjadi saksi bagi orang-orang yang disekitar kita, khususnya pada hari ini manusia adalah makhuk yang memiliki agama bernama konsumerisme.
Jikalau kita mengikut Tuhan karena ingin mendapatkan kemakmuran finansial, kesuksesan, Dan kekuasaan maka kita salah alamat. Mengikut Tuhan berarti menyangkal diri dan memikul salib. Mengikut Tuhan berarti kita siap menghadapi tantangan yang mungkin akan luar biasa di depan sana.

Di dalam perjalanan kita untuk menjalankan panggilan, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Di dalam kisah Abraham kita melihat berbagai macam kegagalan yang dihadapai Abraham namun Tuhan tetap setia kepada Abraham. Abraham berbohong tentang istrinya. Dia mengatakan istrinya adalah saudara perempuannya karena Abraham takut kepada Firaun. Namun Tuhan menolong Abraham pada saat itu sehingga Firaun tidak jadi meniduri istri Abraham. Di dalam masa-masa tua dan secara biologis tidak mampu memiliki anak, Abraham ragu kepada janji Tuhan, namun Tuhan menolong Abraham dan membuktikan bahwa Abraham akan memiliki keturunan sehingga iman Abraham dikuatkan lagi. Kerohanian Abraham jatuh bangun, namun Tuhan menyertai dan memimpin Abraham sampai Abraham melihat kesetiaan Tuhan terhadap janjinya. Demikian juga kehidupan kita. Kita mungkin jauh lebih buruk dari kisah kehidupan Abraham dihadapan Tuhan, tetapi ingat satu hal: keberdosaan dan kegagalan kita untuk berkomitmen untuk setia kepada Tuhan, tidak akan menggalkan rencana Tuhan di dalam kehidupan kita. Di lain pihak, kita juga tetap memiliki kewajiban untuk berjuang dan berkomitmen untuk menggenakan rencana Tuhan tersebut.

Friday, 1 January 2016

Kejadian 11 - Babel, sebuah Gambaran Tentang Kerugian dan Kebodohan Manusia Yang Melawan Tuhan.

Referensi: Kejadian 11:1-9.
Pada bagian ini dikisahkan tentang pemberontakan manusia melalu kejadian Menara Babel. Kisah ini adalah kisah yang terjadi setelah penghukuman air bah di zaman Nuh. Tuhan telah menghukum manusia melalui penghukuman yang begitu besar, kemudian menjanjikan tidak akan ada lagi penghukuman seperti itu dan Tuhan memberikan kesempatan kedua kepada manusia untuk hidup sebagaimana layaknya manusia yang diciptakan oleh Tuhan di dalam desain Tuhan yang semula. Namun sekali lagi manusia melakukan apa yang mereka anggap benar dan sekali lagi ingin melawan Tuhan.
Babel adalah salah satu kebudayaan tertua dan termaju di zamannya. Bahkan sampai sekarang penemuan-penemuan Babel menjadi fondasi perkembangan ilmu teknologi masa kini baik di dalam ilmu matematika dan juga arsitektur. Dalam kondisi kejayaan seperti inilah orang-orang Babel kembali melawan perintah Tuhan. Sebagaimana sejak pertama Tuhan memerintahkan manusia untuk beranakcucu, menguasai dan memenuhi bumi. Namun orang-orang Babel dengan sengaja memilih untuk tetap tinggal di dalam satu wilayah sehingga mereka tidak perlu memenuhi bumi. Artinya mereka dengan sengaja melawan Tuhan. Di dalam bagian kisah ini, Alkitab menceritakan bahwa orang-orang Babel mengatakan, “Marilah kita.” Perkataan ini mengingatkan kita terhadap Kejadian 1 dimana Tuhan mengatakan, “marilah kita.” Kalimat tersebut berarti manusia menginginkan mereka menjadi tuhan bagi diri mereka sendiri. Mereka ingin mengatur setiap tindakan dan masa depan mereka. Melalui kisah ini kita bisa menarik satu pelajaran bahwa kencenderungan manusia ketika manusia mengalami kesuksesan menurut ukuran mereka maka manusia seringkali melupakan Tuhan. Kesombongan manusia dihadapan Tuhan adalah penyebab mengapa Tuhan menghukum orang-orang Babel meskipun penghukuman tersebut tidak sedahsyat penghukuman di zaman Nuh.  
Hal lain yang menjadi perhatian kita ketika membaca bagian ini adalah kerugian manusia ketika melawan Allah. Jikalau kita berbicara tentang untung rugi, maka kita mengerti bahwa orang yang paling bodoh adalah orang yang melawan Tuhan. Mengapa bodoh? Karena hasil pasti ketika orang melakukan itu adalah kerugian. Tidak ada keuntungan sama sekali ketika seseorang melawan Tuhan. Manusia hanya akan mendapatkan kehancuran, kegagalan, kemalangan, dan penderitaan ketika melawan Tuhan. Di dalam sejarah dan kisah-kisah Alkitab sudah terbukti, setiap orang yang berani menjadi musuh Allah maka orang tersebut tidak akan pernah menang. Yang menjadi kerugian lain ketika orang yang melawan Tuhan adalah melalui penghukuman Tuhan kepada orang yang menjadi musuhnya, maka rencana Tuhan tergenapi. Ketika orang Babel melawan rencana Tuhan: menyebar ke seluruh bumi, maka manusia mendapatkan kerugian: penghukuman dari Tuhan. Tetapi melalui penghukuman tersebut, Tuhan sama sekali tidak rugi, bahkan Tuhan mendapatkan keuntungan karena melalui penghukuman tersebut rencana Tuhan tergenapi: akhirnya manusia menyebar ke seluruh penjuru dunia. Karena itu kita harus dengan teliti dan bijak: tidak ada sama sekali keuntungan bagi kita ketika kita melawan Tuhan. Melawan Tuhan adalah hal yang percuma dan itu tetap akan menguntungkan Tuhan karena bagaimanapun juga akhirnya rencana Tuhan tergenapi. Sehingga daripada kita ada di pihak yang berlawan dengan Tuhan, lebih baik kita hidup menjadi orang yang ada di pihak Tuhan. Menjadi umat Tuhan adalah hal yang menguntungkan, menjadi anak Tuhan adalah hal yang membuat kita mengalami sukacita dan kekuatan di dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pada bagian ini kita juga diingatkan tentang kebanggaan manusia yang seringkali bodoh dimata Tuhan. Apapun yang kita banggakan ketika itu berlawan dengan Firman Tuhan, maka bagi Tuhan itu adalah kebodohan dan hal yang tidak perlu dibanggakan. Orang-orang Babel sangat bangga dengan menara tersebut sehingga mereka menyebut tempat tersebut adalah Babel. Babel di dalam bahasa mereka adalah Gate of God. Mereka begitu bangga terhadap achievement, kesuksesan, kemajuan yang sudah mereka dapatkan dengan jerih payah mereka sendiri. Tetapi bagi Tuhan kata Babel bukan berarti Gate of God tetapi Allah yang mengacaukan. Kedua arti kata ini begitu kontras. Salah satu kemalangan yang bisa dialami oleh manusia ketika apa yang manusia banggakan tetapi bagi Tuhan itu adalah hal yang menjijikkan. Karena itu, untuk apa kita terlihat hebat, kuat, sukses di mata manusia tetapi sebenarnya itu adalah kejijikan bagi Tuhan? Kebanggaan kita, seperti orang-orang Babel, ketika itu adalah sesuatu yang melawan rencana Tuhan, maka kita harus malu, bukan membanggakan diri. Jangan sampai kita bangga seperti orang Babel, tetapi bukan pujian yang datang kepada kita, tetapi penghakiman dan penghukuman Allah karena kebebalan dan kebanggaan yang tidak perlu untuk dibanggakan.

Artikel Terpopuler

Saturn Devouring His Son - Fransico Goya (1819)

Salah satu lukisan yang paling mengerikan sepanjang sejarah: Saturn devouring his son yang dilukis oleh pelukis spanyol Francisco Goya (18...