Sunday, 10 January 2016

Kejadian 19:1-29 - Sodom Gomora & Lot: Pentingnya Komunitas Yang Sehat.

Referensi: Kejadian 19:1-29.
          Allah mengutus utusannya untuk melihat langsung kondisi Sodom dan Gomora. Ketika berjalan masuk ke kota, maka Lot menghampiri mereka dan menyambut mereka sebagai tamu yang terhormat. Lot duduk di gerbang kota karena Lot adalah petinggi dari kota tersebut. Artinya Lot sudah hidup dan dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat setempat. Immoralitas sexual adalah hal yang lumrah bagi Lot sehingga masyarakat melihat Lot adalah bagian diri mereka dan Lot dianggap bukanlah ancaman sehingga Lot mampu menjadi wakil mereka untuk duduk di gerbang kota, sebagai tua-tua.
          Komunitas yang rusak sungguh menghancurkan kerohanian Lot. Akibat komunitas yang dia pilih tersebut, maka Lot menjadi orang yang jauh dari Tuhan. Beberapa hal yang dialami Lot antara lain:
1.    Lot mencintai orang-orang berdosa, Bahkan Menjadikan mereka anggota keluarga intinya. Lot semakin terpuruk karena kondisi lingkungan yang dia miliki. Tidak hanya keserakahan, tetapi immoralitas sexual, dan keluarganya pun berasal dari Sodom dan Gomora. Istrinya kemungkinan adalah orang Sodom dan Gomora. Bahkan menantunya pun dari kota terkutuk tersebut. Bagi Lot, mencari istri dan calon menantu yang takut akan Tuhan bukanlah hal yang paling utama, yang penting adalah kasih sayang dan hasrat, Sikap seperti ini cara berpikir yang begitu sesat. Ketika seseorang mengambil pasangan yang bukan seiman, atau mengambil anggota keluarga, seperti menantu adalah sedang mengambil bom waktu. Kehancuran dan kehilangan pasti akan terjadi di kemudian hari. Kemalangan pasti akan dihadapi. Hal ini terbukti di dalam waktu kemudian, Lot justru kehilangan istri dan calon menantunya ditelan nafsu dan kehancuran Sodom dan Gomora. Jadi, ketika mencari pasangan, cinta hal yang sangat penting, tetapi cinta bukan hal yang paling utama. Kategori yang tidak bisa dikompromikan adalah calon pasangan kita adalah seorang yang takut akan Tuhan. Jikalau tidak, kita sebenarnya sedang mengambil kehancuran, seperti yang dialami oleh Lot.
2.    Lot menjadi kompromi terhadap dosa-dosa masyarakat. Komunitas yang salah juga membuat Lot menjadi orang yang kompromi terhadap dosa komunitas tersebut. Karena setiap hari Lot mendengar, melihat sendiri immoralitas sexual yang terjadi di kota tersebut, dan Lot menekan hati nuraninya, maka Lot lambat laun menjadi orang yang melihat immoralitas adalah sesuatu yang biasa. Jikalaupun itu dosa, bukanlah dosa yang begitu parah. Karena itu, untuk melindungi para utusan Tuhan, Lot bersedia memberikan kedua putrinya sebagai ganti para tamu tersebut. Ini adalah hal yang gila. Tidak ada orang tua yang waras yang merelakan anak putrinya untuk diperkosa ramai-ramai oleh satu kampung. Tetapi Lot melihat itu bukanlah hal yang gila, justru itu adalah hal yang lumrah terjadi di dalam komunitas.
3.    Lot mencintai kenikmatan dunia. Berkali-kali Tuhan meminta Lot untuk meninggalkan Sodom dan Gomora segera, namun Lot berlambat-lambat. Dia tidak rela kota kenikmatan tersebut dihancurkan karena dia pergi. Lot tahu bahwa Tuhan menunda kehancuran kota-kota tersebut karena ada Lot di sana. Sehingga Lot sangat berat untuk meninggalkan kenikmatan dan kemewahan yang ditawarkan oleh Lot. Yehezkel 16:49 mengatakan bahwa immoralitas sexual hanya satu dari sekian banyak dosa-dosa yang mereka lakukan. Tetapi dosa lain adalah kemewahan dan berkelimpahan yang membuat orang-orang di sana merasa nikmat dan nyaman. Inilah yang membuat Lot berlambat-lambat. Lot berpikir ratusan kali untuk meninggalkan kota kenikmatan tersebut. Apalagi istri Lot yang meskipun sudah meninggalkan kota tersebut, dan ditarik oleh malaikat, namun dia lebih tetap memilih tinggal di sana dan mati bersama kehancuran kota tersebut.


Paulus mengatakan di dalam 1 Kor. 15:33 – “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” Mencari komunitas yang sesuai dengan ajaran-ajaran Tuhan adalah hal yang penting. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang justru terseret kepada kenikmatan dan tawaran dunia sebagaimana yang dialami oleh Lot.

Saturday, 9 January 2016

Kejadian 18:16-33 - Karakter Orang Benar: Berbelaskasihan.


Referensi: Kejadian 18:16-33
          Salah satu karakter orang benar menurut Yesus adalah “kemurahan hati”. Kemurahan hati ini berlaku kepada orang yang membutuhkan, orang yang terluka, dan juga orang yang berkekurangan. Ketika membaca Kejadian 18 ini, kita menemukan sebuah karakter Abraham yang lain, yaitu kemurahan hati. Abraham berbelaskasihan kepada orang-orang Sodom yang begitu berdosa tersebut. Terlebih lagi ada keponakannya, Lot yang berada di sana. Meskipun Lot pernah mendukakan hati Abraham di dalam pertikaian dan keserakahan Lot, tetapi luka tersebut tidak menahan belaskasihan yang dimiliki Abraham kepada Lot. Kemurahan hati adalah sebuah perasaan seorang kudus yang tidak dapat dibatasi oleh perbedaan ras, kepercayaan, bahkan sakit hati sekalipun.
          Di zaman yang serba teknologi, kepadatan waktu, maka kemurahan hati adalah sesuatu yang begitu langka. Manusia menjadi makhluk yang dingin dan sulit untuk menyatakan belas kasihan kepada orang lain. Pada kondisi seperti ini, kita membutuhkan latihan dan disiplin untuk dapat berbelas kasihan terhadap orang lain. Kita menggunakan berbagai alasan untuk membenarkan perasaan dingin kita. Kita mengatakan bahwa mereka , orang yang harusnya dibelaskasihani adalah orang-orang yang manja, orang yang tidak mau bekerja, orang yang suka memanfaatkan orang lain, penipu, dan berbagai macam alasan lain yang sebenarnya hanya menutupi sikap hati kita yang 100% bertentangan dengan karakter yang dimiliki oleh orang kudus seperti Abraham, bahkan bertentangan dengan karakter Kristus sendiri.
          Belas kasihan adalah sesuatu yang sulit untuk dipraktikkan terhadap orang-orang yang pernah melukai kita. Bagi kita orang tersebut tidak pantas untuk dibelaskasihi bahkan harusnya dimurkai oleh Tuhan dengan penghukuman yang paling berat yang bisa Tuhan berikan. Namun sikap ini berbeda dengan sikap yang harusnya dimiliki oleh seorang Kristen. Abraham pernah dilukai oleh Lot, tetapi Abraham membela Lot dihadapan Tuhan; Yesus dilukai oleh umat manusia, tetapi Yesus membela manusia tersebut dihadapan Tuhan dengan mengatakan, “Ya, Bapa. Ampunilah mereka sebab mereka tidak mengerti apa yang telah mereka lakukan.” Salah satu bukti ketika kita berbelas kasihan adalah mendoakan orang-orang disekitar kita yang membutuhkan, menderita, berkekurangan, bahkan orang yang paling kita benci.

          Mari sama-sama mempraktikkan karakter umat Tuhan: berbelas kasihan.

Friday, 8 January 2016

Kisah Abraham adalah Kisah Tentang Allah, bukan tentang Abraham.



Melalui kisah Abraham yang telah kami renungkan beberapa waktu terakhir, kami menyimpulkan bahwa di dalam kisah Abraham, yang ditekankan adalah kisah Allah sendiri. Di dalam kisah tersebut, Abraham bukanlah “hero” tetapi Allah. Sama seperti kisah Abraham, setiap manusia senantiasa bimbang. Suatu saat beriman dan seolah-olah memiliki pengharapan yang tidak tergoyahkan, namun di waktu yang lain sangat rapuh, depresi, dan pesimis. Namun Tuhan senantiasa menguatkan manusia seperti Abraham. Abraham menjadi bapa orang beriman, bukan karena Abraham adalah seorang yang hebat, tetapi karena Allah menguatkan dan menopang iman Abraham. Tanpa pertolongan dari Allah, maka Abraham bukanlah siapa-siapa, tetapi Allah adalah pribadi yang menepati seluruh janji-janji-Nya apapun yang akan terjadi. Kisah kehidupan kita, yang terutama adalah kisah Allah yang menuntun dan menopang kita. Karena itu kita bisa memiliki sebuah kesadaran untuk mengandalkan Tuhan di dalam kehidupan kita. Di dalam kisah Abraham kita dapat mengerti bahwa Allah tidak pernah gagal dan Dia adalah pribadi yang bisa diandalkan. Pribadi yang menepati seluruh kata-kata-Nya, sehingga kita berani melangkah melihat masa depan.
Jikalau kita hanya mengandalkan diri kita, maka kita hanyalah makhluk yang penuh keraguan dan senantiasa salah mengambil keputusan. Karena itu, tidak ada alasan yang kuat yang mendorong diri kita untuk mengandalkan diri sendiri. Biarlah di dalam kehidupan kita, kita senantiasa mengandalkan Tuhan meminta tuntutan dari Tuhan.

Thursday, 7 January 2016

Kejadian 18 - Pentingnya Proses untuk Menerima Penggenapan Janji Allah.



Referensi: Kejadian 18.
Setelah belasan tahun dari kisah Kejadian 16, dimana Ismail sudah berumur 13 tahun , maka Tuhan secara fisik hadir dihadapan Abraham. Untuk menyatakan kembali penggenapan janji Tuhan tentang keturunan Abraham. Waktu yang begitu lama dinanti-nantikan oleh Abraham. Seringkali sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita memiliki mental instant. Tetapi di dalam berbagai kisah Alkitab, seringkali Tuhan menggenapkan rencananya di dalam jangka waktu yang lama. Di dalam proses penggenapan tersebut, Tuhan juga tertarik untuk memproses umat-Nya ketika menanti penggenapan akan janji Tuhan. Namun seringkali kita cenderung tidak sabaran, dan akhirnya jatuh kedalam sikap pragmatisme yang menginginkan segala sesuatu terjadi secara instant. Kita melupakan satu hal di dalam penggenapan janji Allah: proses kita dibentuk oleh Allah yang mempersiapkan diri kita untuk mendapatkan penggenapan janji tersebut. Sebagaimana yang terjadi di dalam kisah Israel yang masuk ke dalam tanah perjanjian ketika sudah menjadi suatu bangsa. Mereka dilatih oleh Allah untuk menjadi bangsa yang tanggung yang kisahnya dimulai dari perbudakan di Mesir, lalu perjalanan 40 tahun di padang gurun, peperangan demi peperangan untuk membentuk mereka menjadi bangsa yang tangguh dan mampu mempertahankan tanah perjanjian yang Tuhan sudah berikan kepada mereka dari bangsa lainnya. Musuh-musuh di sekitar mereka adalah bangsa-bangsa yang tangguh dan bangsa barbar yang hidupnya adalah peperangan, sehingga Tuhan tidak langsung memberikan tahan perjanjian tersebut kepada mereka, tetapi Tuhan memproses mereka untuk siap menerima penggenapan janji Allah.
Pada bagian ini kita juga bisa mempelajari tentang seorang yang dekat dengan Allah. Abraham di dalam kisah ini diperlihatkan sebagai seorang yang begitu mengenal Allah karena dia adalah seorang yang dekat dengan Allah. Ketika Malaikat Tuhan datang, maka Abraham langsung mengenali Malaikat tersebut adalah Allah, bukan sekadar malaikat. Dia memanggil malaikat tersebut dengan kata yang hanya ditujukan kepada Allah, yaitu Adonai. Kata tersebut hanya ditujukan kepada Allah yang suci dan satu-satunya. Karena itu kita langsung dapat mengerti bahwa seorang yang begitu rohani adalah seorang yang peka dengan kehadiran Allah, mengerti apa yang menjadi kehendak Allah. Kepekaan kepada Allah juga akan mengakibatkan seseorang hidup secara coram deo (in the present of God). Dia mengerti bahwa Tuhan sedang memandangnya dan karena itu sebagai umat Allah, dia senantiasa hidup selayaknya seorang yang hidup dihadapan Allah.
Sara istri Abraham adalah seorang yang kurang beriman kepada Allah. Ketika Allah menubuatkan bahwa Sara akan melahirkan anak untuk Abraham, maka Sara melihat bahwa Allah seorang humoris. Dia tertawa karena tidak mungkin dia bisa mengandung dan melahirkan karena dia sudah begitu tua. Namun janji Tuhan tidak perlu ditertawakan karena tidak ada yang mustahil bagi Allah. Ini hal yang harus dicatat oleh anak-anak Tuhan: tidak ada yang mustahil bagi Allah. Segala sesuatu realita yang mungkin membuat kita sulit untuk beriman bahwa kehendak Allah akan jadi, realita yang menghimpit kita, kesulitan yang kita alami tidaklah boleh membuat kita untuk meragukan kuasa Allah. Janji Allah akan terlaksana, kehendak Allah akan jadi karena tidak ada yang mustahil baginya. Sama seperti membuka rahim Sara yang begitu mustahil di dalam cara pikir manusia, demikian jugalah kita harus percaya ketika Tuhan berkehendak, maka kehendak-Nya pasti terjadi. Sehingga di dalam keadaan yang paling mustahilpun kita tetap memiliki semangat di dalam menjalankan kehendak Tuhan. Zaman ini adalah zaman terlihat bahwa menjalankan prinsip Firman Tuhan begitu sulit. Segala sesuatu seolah-olah melawan seluruh perintah Tuhan. Ketika kita ingin menjadi orang yang tulus, maka kita akan dianggap sebagai orang bodoh atau bahkan akan dibodoh-bodohi dan dimanfaatkan. Namun, kita harus tetap percaya: Firman Tuhan, kehendak Allah, prinsip-prinsip yang harus kita hidupi, harus tetap dipertahankan, karena tidak ada yang mustahil bagi Allah.

Wednesday, 6 January 2016

Kejadian 16:1-16 - Kebahayaan Jalan Pintas & Kebahayaan Melihat Realita Dengan Cara Yang Salah.

Referensi: Kejadian 16:1-16
Pada bagian Kejadian 15, diceritakan tentang kisah dimana Allah bersumpah secara serius dihadapan Abraham bahwa Allah akan menggenapi seluruh janji-Nya kepada Abraham. Hal itu adalah suatu cara yang Tuhan lakukan untuk menopang iman Abraham. Secara logis, seharusnya Abraham sudah sungguh-sungguh beriman kepada Allah tanpa keraguan sedikitpun. Namun, hal tersebut tidak kita temukan di dalam kejadian 16 ini. Justru kejadian 16 ini bertolak belakang dengan respon Abraham yang seharusnya. Abraham meragukan kembali janji Tuhan yang akan tergenapi melalui anak kandung Abraham bersama Sarai istrinya. Ketika Sarai memberikan Hagar kepadanya untuk dijadikan istri dan mendapatkan keturunan, Abraham meng-iya-kan anjuran tersebut. Abraham jatuh kedalam sikap pragmatisme. Abraham menjadi jalan pintas untuk menggenapkan rencana Tuhan. Hal yang sangat ironi dilakukan oleh Abraham: dia ingin menggenapkan rencana Tuhan tetapi bukan dengan jalan Tuhan, tetapi jalan yang dia anggap benar. Sikap Abraham adalah sikap yang kontradisi.

Jalan pintas yang dilakukan oleh Abraham dan Sarai menjadi malapetaka di dalam keluarga. Sarai dan Hagar saling menindas. Hagar terlebih dahulu menindas dan merendahkan Sarai secara psikologis, setelah itu Sarai membalas dendam dengan cara menindas Hagar secara fisik. Selain hubungan kedua wanita ini, hubungan Abraham dan Sarai, Abraham dan Hagar pun menjadi rusak. Tidak sampai di situ, Hagar juga mengandung seorang anak yang mana dia dan keturunannya akan senantisa menentang saudara-saudaranya, bahkan anak tersebut, yaitu Ismael menjadi musuh besar dari umat Allah selama ratusan tahun, bahkan masih terasa sampai sekarang. Inilah kebahayaan shortcut. Shortcut seringkali merupakan sebuah rencana yang dilakukan diluar cara Tuhan, dan ini bukannya akan membawa berkat tetapi membawa malapetaka kepada kita dan keluarga kita.

Kita harus waspada dengan cara tanggap kita terhadap realita yang terjadi. Seringkai realita yang terjadi membuat kita bukannya semakin beriman kepada Tuhan, tetapi semakin meragukan Tuhan. Sebagaimana Abraham yang beriman kepada Tuhan tetapi ketika dia melihat fakta yang terjadi bahwa dia dan istrinya tidak memiliki anak kandung, membuat Abraham meragukan Tuhan: “apakah Tuhan akan menggenapi atau tidak. Haruskah saya dan Sarai membantu Allah untuk menggenapkan rencana Tuhan?” Inilah yang terbesit di dalam pikiran Abraham dan istri ketika melihat fakta dan tidak mampu melihat rencana Tuhan dari fakta-fakta yang kita lihat disekitar kita. Tidak sedikit tokoh besar di dalam sejarah kekristenan mengalami keraguan terhadap Tuhan. Misalnya Ayub meragukan kebaikan Tuhan dan memilih untuk berteriak dan bergumul serta meragukan keadilan Tuhan. Demikian juga Yohanes Pembaptis. Dia semula yakin bahwa Tuhan menggenapkan rencananya melalui Mesias yang akan menyatakan kedamaian dan keadilan di dunia. Namun fakta yang terjadi Yohanes Pembaptis membuat Yohanes Pembaptis meragukan kemesiasan Yesus. Dia berpikir, “Jikalau Mesias hadir, maka keadilan pasti akan berjalan di dalam dunia secara sempurna.” Namun yang dia lihat bahwa dunia belum seperti apa yang dia impikan dan membuat dia meragukan Tuhan. Kita perlu ingat, ketika kita melihat realita yang sedang berjalan, sesulit apapun itu, maka kita harus melihat dari cara pandang Tuhan dan tetap beriman kepada Tuhan yang rela untuk bersumpah demi rencana-Nya.

Tuesday, 5 January 2016

Kejadian 15:1-21 - Abraham, Ketekuan Iman dan Allah yang Menopang Iman Abraham.

Referensi: Kejadian 15:1-21.
          Pada bagian ini, janji Allah kepada Abraham yang sudah dinyatakan pada Kejadian 12 diulang kembali. Allah mengingatkan lagi janji Allah kepada Abraham bahwa keturunan Abraham akan menjadi bangsa yang besar dan akan menjadi berkat bagi dunia.


          Melalui kisah ini setidaknya ada dua prinsip yang bisa kita pelajari:
1. Bertekun di dalam Iman.
Selama bertahun-tahun Abraham mengikut Tuhan, tetapi tanda-tanda penggenapan janji Tuhan pun belum terlihat sama sekali. Bahkan Abraham telah berpikir bahwa mungkin bukan anak kandungnya yang dimaksudkan oleh Tuhan. Maka dia memilih Eliezer sebagai anak angkat dan akan menurunkan nama keluar Abraham. Pada bagian ini, maka Tuhan kembali berbicara dan mengingatkan tentang janji Allah. Sekali lagi Abraham memperlihatkan bahwa dia benar-benar beriman kepada Tuhan. Abraham percaya dengan janji Tuhan tersebut dan dengan apa yang dilakukan Abraham itu, Tuhan melihat itu adalah sebuah kebenaran. Ini adalah iman yang begitu luar biasa dari Abraham. Tidak pernah terbesit olehnya untuk menyembah allah lain dan meninggalkan seluruh janji-janji Tuhan tersebut. Tidak pernah ada keinginan Abraham untuk menemukan janji dari allah lain yang lebih realistis secara pikiran manusia. Dia percaya bahwa Allah akan menggenapi seluruh rencana yang sudah dijanjikan oleh Tuhan. Bagi Abraham Allah adalah pribadi yang dapat dipercaya meskipun dia hanya melihat sedikit bagian dari janji Allah yang tergenapi. Abraham hanya melihat bahwa dia akhirnya memiliki keturunan yang menjadi cikal bakal bangsa yang besar tersebut, tetapi sama sekali Abraham tidak melihat bangsa yang besar tersebut. Dia hanya menikmati secuil dari janji Tuhan, namun dia tetap percaya bahwa Allah adalah pribadi yang dapat dipercaya. Inilah yang dikatakan oleh Yakobus dengan mengatakan bahwa ujian terhadap iman akan mendatangkan ketekunan. Dari Abraham kita bisa belajar tentang bagaimana untuk menjadi orang yang tekun di dalam iman kepada Allah. Ujian, pencobaan, masalah dan kesulitan yang kita hadapi seharusnya tidak membuat kita mundur dari janji dan kehendak Tuhan terhadap hidup kita.

2. Allah adalah Pribadi Yang Aktif Menolong Iman Umat-Nya.
          Selain itu dalam bagian ini kita juga menemukan sebuah prinsip bahwa Tuhan adalah Tuhan yang senantiasa menolong umat-Nya untuk beriman kepada-Nya. Pada bagian ini Tuhan perlu mengingatkan kembali janji ini kepada Abraham karena mungkin Abraham bisa saja akan mulai meragukan janji Tuhan. Bahkan Allah sendiri berani bersumpah untuk meyakinkan Abraham. Perjanjian ini adalah perjanjian antara Allah dan umat-Nya, namun ketika Allah bersumpah akan menggenapkan perjanjian-Nya maka Allah menempatkan diri lebih rendah dari umat-Nya itu. Hal ini terbukti dengan apa yang dilakukan Allah ketika meminta Abraham memotong binatang menjadi dua bagian dan kemudian Allah melewati potongan binatang tersebut. Artinya Allah bersumpah bahwa Allah akan mengalami nasib yang tragis seperti binatang tersebut jikalau Tuhan tidak menepati janji-Nya. Namun Tuhan tidak meminta Abraham untuk bersumpah dengan cara yang sama. Artinya Allah merendahkan diri-Nya dihadapan Abraham hanya untuk meyakinkan dan menguatkan iman Abraham untuk lebih beriman lagi kepada Allah. Abraham adalah pribadi yang lemah. Dia adalah orang yang juga berdosa. Karena fakta inilah Tuhan rela untuk menolong Abraham untuk tetap beriman kepada Tuhan. Karena itu seharusnya seorang Kristen tidak boleh memiliki keseombongan rohani dan merasa diri sebagai orang yang kuat. Sebaiknya seorang Kristen yang memiliki kerohanian yang baik akan senantiasa berdoa kepada Tuhan, “Tolonglah aku yang tidak beriman ini.”


Monday, 4 January 2016

Kejadian 13:1-18 - Kehancuran Lot Akibat Sikap Materialisme dan Egoisme

Referensi: Kejadian 13:1-18.
Alkitab menceritakan tentang kebijaksanaan Abraham ketika berseteru dengan koleganya sendiri. Pada bagian ini, Abraham dan Lot, keponakannya mengalami perseteruan yang dimulai dari perseteruan antara gembala Abraham dan Lot. Mungkin perseteruan ini semakin memanas sehingga mempengaruhi hubungan antara Abraham dan Lot. Namun Abraham adalah seorang yang begitu mementingkan hubungan keluarga lebih daripada harta benda karena Abraham sadar bahwa hubungan jauh lebih penting dari materi. Melihat keadaan yang demikian semakin parah, maka Abraham mengajak Lot untuk melakukan perundingan damai. Abraham meminta Lot untuk memilih terlebih dahulu tempat yang dia sukai, kemudian Abraham akan mengambil tempat lain sehingga mereka hidup tempat yang berbeda sehingga tidak terjadi perseteruan.
Lot adalah seorang muda yang memikirkan begitu banyak kesempatan dan menginginkan kesuksesan sedini mungkin. Dengan seluruh pertimbangan ekonomi, maka Lot memilih lembah Sodom yang secara fakta begitu subur. Namun Abraham membiarkan hal itu terjadi meskipun secara hitungan di atas kertas akan merugikan Abraham. Tetapi Abraham adalah seorang yang matang rohani. Dia tidak melihat kerugian materi yang paling utama, tetapi relasi antara Abraham dan Lot harus tetap terjalin dan bahkan lebih daripada itu, Abraham tidak menggantungkan kehidupannya kepada kekayaan yang bisa dia capai tetapi kepada Tuhan yang akan bekerja dan menggenapi janji-Nya kepada Abraham.
Selain materialis, Lot juga adalah seorang yang egois. Dia hanya mementingkan kepentingan diri dan keluarganay semata dan tidak memperdulikan kehidupan Abraham. Abraham adalah paman dari Lot. Tentu Abraham adalah seorang yang sudah tua. Namun Lot sama sekali orang yang tidak memperdulikan penghidupan Abraham dan keluarganya. Dia tega membiarkan seorang tua mendapatkan daerah yang kurang tandus dan akhirnya mungkin akan membanting tulang demi melanjutkan kehidupannya. Lot memilih tempat yang paling subur dan membiarkan Abraham bergumul sendiri akan penghidupan masa depannya. Seorang Lot lebih muda, dia mampu bekerja lebih keras daripada Abraham, namun dia hanya berdiam dan menutup mata akan realita tersebut.
Pada bagian selanjutnya terbukti bahwa cara berpikir Lot yang serba mementingkan keuntungan ekonomi dan sikap egois itu ternyata salah dan menghancurkan kehidupannya dan keluarganya. Dia hidup ditengah-tengah para pendosa yang memiliki penyimpangan sexual. Bahkan dikatakan lagi bahwa Lot ketika didatangi oleh Abraham sedang berada di pintu gerbang. Ini adalah ungkapan yang menyatakan bahwa Lot adalah salah satu penatua atau petinggi di daerah Sodom. Lot adalah seorang yang beriman kepada Allah, tetapi karena kepentingan materi maka Lot menjadi orang yang kompromi terhadap dosa-dosa yang ada. Sehingga dia membawa kehancuran kepada keluarganya sendiri. Di dalam kisah penghukuman Allah kepada Sodom dan Gomora, maka istri Lot menjadi tiang awan, dan kedua putri Lot sengaja meniduri ayahnya karena kedua anaknya pun mungkin terpengaruh terhadap immoralias sexual di Sodom.
Kisah tersebut merupakan pelajaran bagi kita manusia yang semata-mata hanya memikirkan kepentingan ekonomi, kekaayaan untuk memutuskan segala sesuatu. Jikalau kehidupan kita didorong oleh hal tersebut, nisacaya kita akan hidup seperti Lot. Kita menjadi orang yang menomor sekiankan relasi persaudaraan dan juga hidup kompromi dengan segala bentuk dosa demi mendapatkan pencapaian materi dan kesuksesan.

Pelajaran yang kita bisa temukan dari bagian ini adalah: ketika kita mempertimbangkan untuk memilih antara ini atau itu, seharusnya yang paling pertama pertimbangan kita bukan masalah keuntungan ekonomi atau memuaskan keegoisan kita, tetapi menggantungkan pengharapan dan masa depan kita kepada Allah. Kita harus memilih sesuatu yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan menggenapkan rencana Tuhan. Hal ini terbukti bahwa meskipun Abraham bersikap menomorduakan kekayaan, tetapi Tuhan tetap memelihara Abraham dan keluarganya sehingga semakin lama menjadi bangsa yang semakin besar. Abraham percaya, apapun yang terjadi, Tuhan tetap akan menggenapkan rencananya. Karena itu tidak ada alasan untuk Abraham harus memilih jalan yang penuh kebusukan untuk menggenapkan rencana tersebut. Marilah kita juga hidup beriman seperti yang Abraham lakukan, bukan seperti Lot. Pertimbangan dan kebijakan ala Lot adalah seperti yang dikatakan oleh penulis Amsal: Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut (Amsal 14:12)


Artikel Terpopuler

Saturn Devouring His Son - Fransico Goya (1819)

Salah satu lukisan yang paling mengerikan sepanjang sejarah: Saturn devouring his son yang dilukis oleh pelukis spanyol Francisco Goya (18...