Wednesday, 16 November 2016

Perihal Kebijaksanaan #18 - ORANG BIJAK TIDAK BERDEBAT DENGAN ORANG BEBAL.



Jangan berbicara di telinga orang bebal, sebab ia akan meremehkan kata-katamu yang bijak. (Amsal  23:9)

Berdebat bukan melulu adalah hal yang keliru. Meskipun seringkali debat akan membawa kita hanya sekadar ingin menang sendiri dan tidak sedikit orang yang berdebat emosi dan melakukan kericuhan. Memberikan argumen untuk menjelaskan secara rasional suatu kebenaran adalah sesuatu yang pantas dan tentu harus dilakukan oleh seorang yang bijaksana. Yesus sendiri ketika diajak berdebat oleh orang Farisi dan para pemuka agama lainnya, maka Yesus menjelaskan secara rasional setiap tindakan yang dilawan oleh para lawan nya (Lukas 7: 36-50; Matius 23:1-36). Namun sebagaimana yang dilakukan Yesus juga – Dia diam ketika dihakimi oleh para imam agama dan Majelis Agama karena menganggap itu adalah hal yang tidak penting dilakukan karena dia sedang menghadapi orang-orang bebal yang tidak akan menerima seluruh argumennya, karena mereka benci terhadap kebenaran (Mat. 26:57-68). Orang yang bijak, ketika penjelasan dan ajakan berdebat secara rasional dan bijaksana tidak dihargai, maka menurut Amsal, orang bijak akan tahu bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk berhenti. Mengapa? Karena orang bebal tersebut hanya akan meremehkan setiap perkataan kita. Orang bebal adalah orang yang keras hati yang yang hanya percaya apa yang mereka ingin percaya.
Kata meremehkan di sini, di dalam bahasa aslinya adalah בּוז  yang berarti menghina. Jadi, bukan sekadar meremehkan, atau menganggap perkataan orang bijak adalah sesuatu hal yang enteng, tetapi secara aktif menghina. Mengina di sini bisa dapat artian hate speech, perkataan kotor, atau melakukan et hominem (menghina pribadi dari lawan bicara). Menurut Amsal, sikap yang bijaksana untuk menghadapi orang demikian adalah menghentikan percakapan dan tidak perlu lagi melakukan argumen atau adu debat dengan orang-orang bebal, karena itu adalah suatu usaha menjaring angin. Tidak akan ada faedahnya, justru kita akan terjerat, bahkan membawa kita kepada level kebebalan mereka. Kita menjadi marah, bahkan bisa saja kita terpancing melakukan hal-hal bodoh seperti adu mulut, bahkan adu jotos. Dalam kondisi tersebut, lebih baik menahan diri, menelan seluruh kepahitan ketika dihina, dan pergi dari mereka sebagai orang bijaksana.

Tuesday, 15 November 2016

Perihal Kebijaksanaan #17 - Berpegang & Mengarahkan Hati Kepada Kebenaran


Hai anakku, dengarkanlah, dan jadilah bijak, tujukanlah hatimu ke jalan yang benar. (Amsal 23:19 ITB)

1. Hanya berpegang kepada kebenaran.
Agar tidak mengalami kesalahpahaman atau kebingungan ketika anda membaca beberapa versi terjemahan Alkitab, ada baiknya saya memulai dengan sedikit pendekatan teknis dari beberapa bahasa Alkitab perihal kalimat kedua dari ayat ini:
Di dalam bahasa Inggris, ayat ini memiliki kalimat: and guide thine heart in the way. (Pro 23:19 KJV) yang artinya pimpinlah hatimu di dalam jalan (jalur). Di dalam bahasa Ibrani mengatakan וְאַשֵּׁ֖ר בַּדֶּ֣רֶךְ לִבֶּֽךָ׃ (Pro 23:19 WTT) yang artinya: pimpinlah hatimu lurus. Kata lurus juga dapat diartikan benar, sehingga kita juga bisa mengatakan di dalam bahasa Ibrani berarti  pimpinlah hatimu benar. Keunikan terjemahan bahasa Indonesia menggabungkan dua kata penting di dalam bahasa Inggris: jalan, dan Ibrani: benar, dengan mengatakan: , tujukanlah hatimu ke jalan yang benar. Dengan demikian, ketika terjemahan tersebut tidak saling kontradiksi tetapi terjemahan tersebut menggunakan istilah yang berbeda dengan makna yang sama, yaitu hati yang diarahkan kepada kebenaran.
Dengan demikian, kita bisa melanjutkan pembahasan tentang ciri-ciri orang bijaksana yang bisa temukan pada ayat ini.
Ciri-ciri seorang bijaksana selanjutnya yang bisa kita temukan pada ayat ini adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran. Mereka akan mengorbankan segala sesuatu demi kebenaran. Setiap syahwat yang bertentangan dengan syahwat kebenaran adalah haram menurut mereka. Bagi mereka, menentang kebenaran adalah penistaan yang tidak dapat ditolerir. Mereka mampu hidup miskin, hidup susah payah, asalkan mereka dapat hidup benar dan menjaga hati nurani yang bersih.
Orang-orang yang bijaksana mampu mengangkat beban yang begitu sulit ketika seluruh dunia menentang mereka karena sifat dan sikap mereka yang menjunjung kebenaran dengan tinggi. Tidak ada yang dapat menekan mereka untuk dapat mengorbankan kebenaran, bahkan ancaman maut sekalipun. Demikian Sokrates, seorang guru filsuf (pecinta kebijaksanaan) yang rela mati demi mempertahankan kebenaran. Baginya kematian adalah sesuatu yang biasa dan pasti dialami oleh setiap manusia, karena itu kematian bukan penghalang kebenaran. Contoh lain kita bisa temukan di dalam Alkitab adalah kisah dari Rasul Paulus. Dia adalah seorang yang berpegang teguh kepada kebenaran, sifat “farisi”-nya tidak pernah hilang ketika dia menjadi seorang Kristen. Bahkan sifat yang bersikeras kepada kebenaran tersebut membuat dia hidup menderita. Teman-teman lamanya sesama Farisi memusuhi bahkan ingin mencelakakannya. Dia menjadi salah satu buronan yang paling dicari oleh kolega-kolega lamanya. Dia dicerca, dia dihina, dia dilempar batu, dia dipenjara, bahkan pada akhirnya dia dibunuh oleh kaisar Nero, tetap saja dia berpegang kepada kebenaran. Tidak sedikitpun terbesit di dalam pikirannya untuk mengorbankan kebenaran dan kompromi terhadap kebenaran agar dia bisa sedikit saja mengalami kelonggaran dari kesulitan akibat kebenaran tersebut.
Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa setiap orang yang bijaksana adalah orang yang dekat dengan kebenaran.

2. Mengarahkan hati kepada kebenaran.
Ciri-ciri kedua adalah “mengarahkan” hati kepada kebenaran. Di dalam bahasa Inggris disebutkan guide” your heart. Seorang yang bijaksana adalah seorang yang tentunya tidak secara otomatis langsung mengerti dan dekat dengan kebenaran. Tetapi dia mengarahkan, memimpin hatinya kepada kebenaran. Dengan demikian dapat diartikan bahwa seorang yang bijaksana secara aktif mencari kebenaran dan melatih dirinya untuk dekat dengan kebenaran.
Prinsip “latihan” ini perlu kita cermati. Mengingat pada dasarnya manusia adalah orang yang berdosa, yang benci kepada kebenaran karena kebenaran tidak pernah membuat mereka bisa memenuhi seluruh syahwat duniawi mereka. Tidak ada satupun orang yang dapat ahli tanpa latihan. Seorang altet yang ahli di dalam olahraga tertentu, pasti sudah menghabiskan begitu banyak waktu untuk latihan olahraga tersebut sehingga segala sesuatu yang dia lakukan yang berhubungan dengan olah raga tersebut menjadi biasa dan tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Demikian juga dengan melakukan kebenaran. Orang bijaksana harus melatih dirinya seperti olahragawan sehingga dia menjadi orang yang biasa untuk melakukan kebenaran.
Prinsip lain yang bisa kita temukan dari ilustrasi latihan adalah “memaksa” diri. Seorang olahragawan tidak hanya sebatas melatih dirinya, tetapi untuk meningkatkan daya tahan dan kekuatannya, maka dia memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan mereka. Demikian juga seorang yang bijaksana. Seorang yang bijaksana adalah seorang yang memaksa dirinya untuk melakukan kebenaran, meskipun itu sesuatu yang terasa sulit bahkan diluar kemampuan mereka.

KEUNTUNGAN MENJADI ORANG YANG BERPEGANG KEPADA KEBENARAN: KEBAHAGIAAN.
            Seorang bijaksana bukanlah seorang yang akan senantiasa hidup menderita, kesulitan, seolah-olah tidak mendapatkan keuntungan apapun. Meskipun harus disadari bahwa keuntungan yang mereka dapatkan bukan serta-merta keuntungan seperti apa yang dunia tawarkan: hidup yang serba glamor, gemerlap, dan mampu memenuhi seluruh hasrat mereka.
            Kata kebenaran di dalam ayat ini berasal dari kata: אָשָׁר (°¹sh¹r) yang berarti kebahagiaan. Mereka tidak perlu berpikir keras bagaimana caranya untuk mendapatkan target keuangan setiap bulan, karena itu bukanlah tujuan mereka. Mereka tidak perlu pusing untuk memenuhi seluruh hasrat hobi mereka yang harus membuat mereka mencari uang ratusan juta demi pemenuhan hobi tersebut. Hidup mereka tidak perlu dikejar-kejar oleh target-target dunia demi kepentingan kesombongan atau hasrat untuk membanggakan diri. Kita dapat melihat bagaimana orang-orang yang memiliki target-target tertentu justru menjadi orang yang paling tertekan di dunia. Mereka seolah-olah bisa menikmati hidup mereka karena seluruh pencapaian tersebut. Tetapi pencapaian tersebut merupakan sesuatu yang sebenarnya membuat mereka gusar, khawatir akan hari esok, apakah seluruh target-target demi pemuasan hasrat dunia tersebut dapat dipenuhi. Semakin mereka menuju target, semakin meningkat tekanan. Semakin mereka tidak puas, dan tidak sedikit diantara mereka berujung kepada rasa tertekan, stress, dan bahkan melenyapkan nyawa mereka sendiri.
Menurut Amsal, orang yang paling bahagia adalah orang bijaksana karena dia berpegang teguh kepada kebenaran dan mencari kebenaran.  Blaise Pascal mengatakan “tidak ada hal yang mampu membuat kita bahagia, kecuali keinginan yang tulus untuk mencari kebenaran.” Hidup mereka sederhana: menjalankan kebenaran dan mencari kebenaran. Mereka makan seadanya, minum seadanya. Bagi mereka itu cukup, asalkan tujuan mereka dapat tercapai, yaitu KEBENARAN. Itulah orang bijaksana.


Sunday, 25 September 2016

Sully

Melakukan kebenaran dengan menolong sesama adalah sesuatu yang benar untuk dilakukan. Tetapi respon yang kita dapatkan ketika melakukan hal yang benar, berjuang menolong, menyelamatkan sesama, justru dipersalahkan, dibenci dan ingin disingkirkan... Dialah Sully.

The Magnificent Seven

Mereka disebut MAGNIFICENT karena menolong sesama mereka, mereka berjuang untuk orang-orang yang membutuhkan. Mereka berjuang untuk mempertahankan apa yang mereka tidak akan mereka miliki.

Mereka MAGNIFICENT karena berkorban dan mempertaruhkan segala sesuatu demi KEADILAN.

Apapun latar belakang mereka, siapapun mereka pada masa lalu, tetapi keputusan penting: untuk berjuang mempertahankan kampung halaman orang-orang tertindas mengubah jati diri mereka untuk selama-lamanya menjadi THE MAGNIFICENT SEVEN.

Monday, 27 June 2016

Film Central Intelligence (2016) - "Tidak perlu sempurna untuk bisa memberi."

Satu tindakan belas kasihan dari Calvin dalam masa sulit mengubahkan kehidupan Bob Stone (Dwayne Johnson) untuk selamanya. Mungkin bagi Calvin itu adalah hal yang sepele tapi hal itu menjadi inspirasi Bob Stone untuk selamanya. Meskipun Bob Stone sudah menjadi seorang "Jason Bourne" namun baginya Calvin adalah pahlawan yang sesungguhnya, meski Calvin memandang dirinya adalah seorang pecundang.


Ada pepatah yang mengatakan, "Tidak perlu sempurna untuk bisa memberi."

Tuesday, 14 June 2016

Dijajah Bangsa Sendiri?


“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” – Bung Karno

Persis kondisi sekarang. Orang sendiri menjajah sesamanya. Dimana tidak ada kemerdekaan demi menjunjung kepentingan golongan tertentu.

Ceritanya sih demi kepentingan mayoritas, mengorbankan kepentingan miniritas. Bukannya demokrasi berarti tidak ada hak satu individupun yang tidak dilindungi selama tidak melanggar hukum? Kalau konsep itu tidak dijalankan negara ini bukan negara demokrasi, tetapi negara golongan. Sebut saja golongan A atau B atau C, terserah menurut selera anda. Tapi pastinya itu bukan konsep negara demokrasi.

Friday, 10 June 2016

Konsep Puasa Menurut Nabi Yeremia

Bacaan Utama: Yesaya 58:3-7

Puasa sebagai disiplin rohani sangat jarang dilakukan oleh gereja-gereja Calvinist. Ini bukan termasuk di dalam tradisi yang mendarah daging di dalam kehidupan orang-orang Calvinist. Lalu kecenderungan gereja-gereja Calvinist menjadi kurang melihat signifikansi dari disiplin spiritual seperti puasa. Mengapa?  Karena bukan puasa atau disiplin rohani yang membuat kita berkenan dihadapan Allah. Memang itu benar, kita melakukan disiplin rohani bukan karena mau diselamatkan. Tetapi kita melakukan disiplin rohani karena kita sudah diselamatkan dan kerohanian kita harus bertumbuh.


Kritik Yesus terhadap orang Farisi yang berpuasa. Yesus mengatakan bahwa orang Farisi yang berpuasa itu munafik. Mengapa munafik? Bukan karena puasanya, tetapi karena sikap dari orang Farisi. Dia memamerkan dirinya sedang berpuasa agar terlihat lebih rohani dari yang lain. Jadi, Yesus sama sekali tidak menentang puasa, tetapi menentang kemunafikan orang yang berpuasa.

Namun, sebagai orang Calvinist yang sola scriptura, maka kita sebenarnya seharusnya melihat bahwa puasa memiliki posisi yang penting di dalam kehidupan kerohanian kita. Alkitab sangat banyak berbicara tentang perihal puasa. Di dalam PL begitu banyak bicara tentang puasa; di dalam PB juga berbicara tentang puasa. Demikian juga kita melihat di dalam praktik gereja mula-mula orang-orang Kristen juga melakukan puasa.

Alkitab berbicara banyak tentang puasa dalam kategori makanan.  Puasa tidak hanya masalah makanan. Karena ada orang-orang yang tidak mampu untuk berpuasa dalam kategori makanan: maag akut, atau penyakit yang lain. Inti dari dari puasa adalah menyerahkan sesuatu yang sangat kita butuhkan atau kita senangi dan meluangkan waktu lebih banyak dan memfokuskan diri untuk Tuhan. Misalnya di dalam 1 Kor. 7:1-5 ada puasa sexual di dalam pernikahan untuk memfokuskan diri kepada Tuhan.


Jenis-jenis puasa:

  1. Puasa penuh: tidak makan dan tidak minum. Ini yang dilakukan oleh Yesus di padang gurun; dilakukan Paulus; dan juga Ester. Mereka tidak makan dan minum.
  2. Puasa yang parsial: tidak memakan makanan tertentu ketika makan. Dia tidak memakan makanan dan minuman yang nikmat seperti daging dan juga anggur. (Dan. 10:2-3); hanya makan sayur dan air putih (Dan. 1:12)
  3. Puasa sexual (1 Kor. 7:3-6). 
  4. John Calvin juga sangat menekankan agar setiap pengajar Firman menekankan pentingnya puasa di dalam kehidupan bergereja. John Calvin menggunakan kata “mendesak.” -  pengajar Firman Tuhan harus mendesak jemaat untuk melakukan puasa.



HATI-HATI! Alkitab sangat hati-hati tentang pantangan terhadap makanan. Karena seringkali pantangan tersebut adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.


KONSEP YANG SALAH TENTANG PUASA:

  • Menganggap suatu makanan jahat.

Mereka mengatakan jangan makan ini jangan makan itu karena menganggap makanan tertentu adalah jahat.
Tetapi Alkitab mengajarkan hal yang sama sekali berbeda. Alkitab melihat makanan adalah baik:
Yesus mengatakan bukan apa yang dari luar yang menajiskan manusia, tetapi apa yang keluar dari dalam manusia. Jadi, makanan bukanlah jahat. 15 Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." (Mar 7:15 ITB). Paulus katakan di dalam 1 Tim. 4:4 bahwa semua ciptaan Tuhan adalah baik dan tidak satupun yang haram. Konteks pergumulan Paulus adalah ada ajaran yang mengatakan bahwa makanan dan sex itu adalah jahat.
Mengapa makanan baik? Karena makanan mengisi kebutuhan fisik kita dan makanan bisa menjadi sebuah alat untuk mengucap syukur atas kebaikan Tuhan. Karena kenikmatan di dalam kecapan merupakan sebuah sarana untuk mengucap syukur terhadap kebaikan Tuhan yang menciptakan dunia yang begitu indah. Misalnya John Calvin ketika bertemu adalah orang yang suka bersama-sama dengan temannya untuk menikmati anggur yang baik. Tetapi jangan sampai makanan dan minuman tersebut membawa kita jauh daripada Tuhan sehingga makanan dan minuman itu menjadi Tuhan kita.
Pertanyaan: bagaimana dengan makanan yang dilarang karena isu medis? Ada dua kemungkinan:
Bukan karena makanan itu tidak sehat namun karena tubuh kita yang lemah dan tidak bisa menerima makanan itu;
Mungkin yang kita anggap makanan itu sebenarnya tidak di desain oleh Tuhan untuk dimakan, tetapi karena dosa dan kerakusan, maka manusia tetap memakan.


  • Puasa adalah tindakan asketisme: menghukum diri.

Puasa juga tidak dilakukan dalam kategori asketis, yaitu untuk membatasi fisik atau menghukum daging kita karena kita anggap daging kita berdosa dan menghalangi kita dekat kepada Tuhan. Kita tidak melihat tubuh adalah jahat dan roh adalah baik.
Konsep ini tidak bisa diterima. Karena ketika Tuhan menciptakan manusia maka Tuhan menciptakan tubuh dan roh baik adanya; ketika manusia jatuh dalam dosa maka arah dari tubuh, tetapi tidak hanya tubuh tetap arah dari roh juga ke arah dosa; ketika manusia ditebus, bukan hanya roh tetapi tubuh juga ditebus oleh Allah. Sehingga perendahan dari tubuh tidak bisa kita terima. Kita berpuasa bukan karena tubuh berdosa.
Tidak semua asketisme itu salah. Asketisme secara literal berarti exercise/ berlatih. Asketisme kita terima dalam pengertian yang benar, bukan dalam pengertian tubuh harus dibatasi, dihukum karena tubuh ini jahat. Tetapi kita mengerti asketisme dengan tujuan:
medis/ kesehatan fisik,
untuk memfokuskan diri kepada Allah dan anugerahnya.


  • Puasa untuk  membuat Tuhan untuk melakukan apa yang kita mau.

Jangan sampai kita berpikir jikalau kita berpuasa maka Tuhan akan berhutang kepada kita sehingga dia akan melaksanakan apapun yang kita inginkan. Misalnya kita puasa untuk dapat mobil ferari, lamborgini, atau jet pribadi. Tidak usah puasa, itu pasti sia-sia.
Di dalam puasa, maka yang kita cari adalah kehendak Tuhan, bukan kehendak kita. Contoh adalah Raja Daud. Daud berpuasa mengharapkan Tuhan mengabulkan keinginannya agar anak yang dikandung Betsyeba tidak mati. Tetapi Daud lebih menginginkan kehendak Tuhan bukan keinginannya. Sehingga kita melihat ketika seorang datang kepada Daud dan mengatakan bahwa anak Betsyeba telah mati, maka dia langsung berhenti berpuasa dan makan. Mengapa? Karena dia tidak pernah memaksa Allah dengan puasanya. Dia lebih tertarik untuk mengerti apa yang Tuhan mau di dalam pergumulan tersebut.


MENGAPA KITA HARUS BERPUASA? Puasa merupakan sebuah latihan rohani, untuk:

  • Mengingatkan kita bahwa makanan tidak menjadi Tuhan kita. Paulus di dalam Fil. 3:19 mengatakan bahwa “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka.” Seringkali orang mengalami kerusakan hidup karena mereka melihat makanan adalah Tuhan. Makanan adalah sesuatu yang menguasai direction kehidupan mereka. Untuk apa cari uang banyak? Untuk makan. Untuk apa jauh-jauh pergi? Untuk makan. 



  • Mengingatkan kita apa itu lapar yang sesungguhnya. Waktu kita berpuasa maka kita akan merasakan lapar. Waktu kita merasa lapar maka kita diingatkan bahwa kelaparan yang utama bukanlah kelaparan fisik ini tetapi kelaparan kepada Allah. Sehingga waktu kita lapar kita berjuang dan senantiasa mengingat kepada Tuhan, “Ya Tuhan. Bukan kelaparan ini yang paling utama, tetapi kelaparan terhadap Engkau.” Semakin kita lapar maka ingatan tersebut semakin kuat.  Kurangnya “rasa lapar” kita kepada Allah bukan karena Allah itu tidak enak atau Allah itu menjijikkan, tetapi karena rasa lapar kita sudah diisi oleh yang lain, yaitu makanan. Karena itu kita harus melatih diri dengan berpuasa agar kita dapat mengurangi rasa lapar atau hasrat kita terhadap makanan sehingga itu bisa menambah rasa hasrat kita kepada Allah. 



  • Untuk merendahkan diri sehingga mengingatkan betapa rapuhnya kita. Maz. 35:13 mengatakan bahwa Daud berpuasa untuk merendahkan diri. Di dalam bahasa aslinya, kata “menyiksa diri” lebih tepat sebagai merendahkan diri. Bagaimana puasa bisa merendahkan diri kita? Ketika kita berpuasa maka kita sadar bahwa kita lemah tanpa sesuatu yang ada di luar kita. Manusia sering sombong karena menganggap dirinya pintar, bisa segala sesuatu, dan self-sufficient. Tetapi waktu berpuasa, maka dia sadar bahwa dia ternyata tidak sekuat apa yang dia pikirkan. Dia membutuhkan sesuatu diluar dirinya untuk bisa bertahan. Lalu yang terpenting sebagai orang Kristen ketika berpuasa mengerti bahwa di luar diri-Nya dia membutuhkan Tuhan lebih dari dia membutuhkan makanan; Tuhan adalah kebutuhan utama kita. Kita lemah tanpa Tuhan. Seperti sebuah lagu kataka, “Kita tanpa Tuhan adalah butiran debu.”



  • Untuk mengerti Kehendak Allah. Musa di atas gunung Sinai sebelum menerima Firman Tuhan, maka dia berpuasa (Kel. 34). Samuel meminta orang-orang Israel untuk berpuasa (1 Sam. 7) ketika harus beperang melawan orang-orang Filistin. Demikian juga Elia ketika dikejar-kejar oleh Ahab dan Izebel, maka di padang gurun dia melakukan perjalanan ke gunung Horeb sambil berpuasa selama 40 hari untuk mengerti kehendak Allah. Setelah berpuasa maka dia mendengarkan perkataan Tuhan dari angin sepoi-sepoi (1 Raj. 19). 


Jadi, puasa adalah salah satu kegiatan rohani untuk membawa kita mengerti kehendak Allah. Di dalam puasa maka kita lebih banyak waktu untuk menggumulkan apa yang Tuhan mau di dalam problem-problem yang kita hadapi. Seringkali kita bingung, namun kita lupa melakukan langkah spiritual, yaitu berpuasa. Sehingga kita terus-menerus mengalami kebingungan.

KAPAN SAJA ORANG KRISTEN BERPUASA?

  • Mempersiapkan satu pelayanan.

Di dalam Kis. 13:1-3 dikatakan bahwa jemaat di Antiokia berpuasa untuk mempersiapkan pelayanan misi Paulus dan Barnabas. Demikian juga kita di dalam pelayanan kita seringkali kita melakukan puasa untuk mempersiapkan diri kita di dalam pelayanan. Di dalam puasa, lita memohon kepada Tuhan bahwa kita lemah dan tidak memiliki kekuatan apapun di dalam melakukan pekerjaan Tuhan tanpa belas kasihan dari Tuhan.
Ini merupakan hal yang sangat penting di dalam pelayananan kita. Ketika kita sedang mempersiapkan diri di dalam suatu pelayanan, maka kita berpuasa agar Tuhan berikan kekuatan. Misalnya sekarang ini panitia KIN sedang berpuasa untuk persiapankan pelayanan KIN.


  • Tindakan Pertobatan atau meminta pengampunan dari Tuhan.

Setelah Yunus memberitakan tentang penghakiman yang akan Tuhan lakukan kepada Niniweh, maka orang-orang Niniweh bertobat dan ekspresi dari pertobatan dan memohon pengampunan dari Tuhan adalah dengan berpuasa.
Demikian juga Daud, waktu Daud tahu bahwa Tuhan akan menghukum Daud dengan kematian anak hasil perzinahan dengan Batsyeba, maka Daud berpuasa sebagai bentuk pertobatan dari Daud.
Waktu kita mengalami kegagalan-kegagalan di dalam kehidupan kerohanian kita, seharusnya ekspresi kita adalah berpuasa. Karena ketika sadar akan dosa-dosa kita, makanan bukan merupakan hal yang penting untuk kita utamakan tetapi merenungkan dosa kita dan mengkoreksi diri kita dihadapan Allah.


  • Memfokuskan diri untuk berdoa dan bersedekah.

Bapak Gereja seperti Origen dan Augustine ketika menafsirkan Mat. 6, maka mereka melihat kegiatan puasa tidak bisa dipisahkan dengan i) kegiatan doa yang lebih banyak atau ii) memberikan sedekah lebih banyak. Di dalam Mat. 6 dimana kewajiban rohani yang dikatakan Yesus ada tiga hal: i) puasa; ii) berdoa; iii) memberikan sedekah. Mereka dengan cara menggunakan waktu makan mereka untuk berdoa atau memberikan apa yang harusnya mereka makan untuk orang-orang miskin.


Artikel Terpopuler

Saturn Devouring His Son - Fransico Goya (1819)

Salah satu lukisan yang paling mengerikan sepanjang sejarah: Saturn devouring his son yang dilukis oleh pelukis spanyol Francisco Goya (18...